backgroud
logo

Opini

 

Gerakan Aspirasi Warga Jabar: Kasus Wyata Guna Tragedi Kemanusiaan

Gerakan Aspirasi Warga Jabar: Kasus Wyata Guna Tragedi Kemanusiaan

 
Gerakan Aspirasi Warga Jabar: Kasus Wyata Guna Tragedi Kemanusiaan
Warga Bandung yang menyampaikan simpati kepada warga eks Wyata Guna di jalan Pajajaran, 15/1/2020 . (istimewa)
WJtoday
Rabu, 15 Januari 2020 | 21:21 WIB
WJtoday, Bandung - Gerakan Aspirasi Warga Jabar menyebutkan kesemerawutan Tata Aturan Penyelenggaraan dan Tata Kelola Panti PSBN Wyata Guna  antara Kementerian Sosial (Kemensos) yang mengeluarkan Permensos NO 18 Tahun  2018 Tentang Pergantian Fungsi Menjadi Balai (Vokasi)  selama hampir 2 tahun ini telah mengakibatkan tragedi kemanusiaan.

Mulai terakhir Juli 2019 dikembalikannya anak anak Panti kepada orangtuanya yang belum tentu dari kalangan mampu,  sehingga dari 170 orang penghuni Panti saat ini hanya 30-an bertahan itupun mayoritas dari kalangan disabilitas netra terpelajar.

Mereka yang bertahan adalah para mahasiswa, karena mereka lebih mengerti hukum sehingga mereka tidak berhenti menyuarakan aspirasi pembelaan kaumnya mulai dari masa Pilpres 2019 sampai terakhir tanggal 14 Januari 2020 tergusur dan menggelandang di pinggir jalan Pajajaran depan bangunan yang merawat mereka selama ini.

Kesemerawutan Tata Kelola Aturan Perundang -undangan, serta komunikasi dan koordinasi antar Kemensos,  Pemerintah Provinsi Jabar, dan Pemerintah Kota Bandung  telah membuat Gerakan Aspirasi Warga Jabar suatu Paguyuban Mantan Mantan Peserta Pemilu DPD RI asal Jabar.

Melalui keterangan tertulisnya, Rabu (15/1/2020), mereka menyatakan  prihatin dan menyatakan sikap sebagai berikut :   

1. Meminta Pemerintah Kota  Bandung segera mengambil alih tanggung jawab pemeliharaan anak anak Panti yang masih ada di Dinas Sosial atau rumah sosial yang tersedia sampai ada kejelasan tentang hak dan tanggung jawab Pemerintah Pusat (Kemensos)  dan Pemerintahan Provinsi tentang kewajiban negara mengadakan Panti Sosial Netra di Jawa Barat.

2. Hilangnya Panti Netra PSBN Wyata Guna selain mengalihkan peruntukan dari Yayasan terdahulu (sejak zaman Belanda) sebagai Panti Netra pertama di Indonesia bisa mengakibatkan pelanggaran besar Konstitusi tentang kewajiban negara memelihara fakir,  miskin dan anak anak terlantar sesuai UUD 1945 pasal 34.

3. Menuntut Menteri Sosial yang baru mempelajari secara seksama Kebijakan Menteri Sosial yang lama tentang Permensos nomer 18.tahun 2018 sehingga tidak terjadi kesalahan konstitusi yang fatal termasuk melakukan mitigasi dan langkah langkah kebijakan yang benar secara governace (tata kelola yang baik)  terhadap dampak kebijakan Menteri sebelumnya.                                 

4. Segera bentuk Komisi Disabilitas Nasional sebagai KOMNAS HAM nya Kaum Disabilitas agar peristiwa memalukan ini dapat mitigasi cepat.


Gerakan Aspirasi Warga Jabar mengungkapkan  aspirasi dan artikulasi publik kepentingan kaum disabilitas ini sampaikan untuk mendapatkan tindakan segera dan nyata dari pihak yang berwenang.  

Mereka yang tergabung dalam wadah ini antara lain: Ellan Heryanto, Andri Perkasa Kantaprawira, Dr .Oktri Firdaus, Robby Maulana Dzulkarnaen, Maulidan Isbar, KH. Ayi Hambali, Adjie Saptaji, SH., Yus Yus Kuswandana, Syifa Hananta, Sapei Ruspin, Iwan Kusmawan, M. Sidharta, Aa Mulyana, Aan Permana, Aripin Kertasaputra, Abah Ruskawan,     Ahmad Basirudin, dan Suwidi Tono.

Sejumlah warga eks Panti Wyata Guna yang bertahan tidur di trotoar Jalan Pajajaran Bandung, Rabu (15/1/2020)

Sementara itu soal harus keluarnya puluhan warga eks panti, Kepala BRPSDN Wyata Guna Sudarsono, menuturkan bahwa di semester 1 tahun 2020 akan ada penambahan penghuni disabilitas di Balai Wyata Guna Bandung untuk mendapatkan rehabilitasi dan vokasi. Oleh karena itu asrama perlu ditata untuk penempatan kembali. 

Sudarsono menyebut, target 2020 akan ada sekitar 200 penghuni baru. Sehingga mahasiswa yang bertahan walau masa rehabnya telah berakhir akan menghambat proses penerimaan. 

"Bayangkan ada orang baru yang mau melakukan latihan terganjal. Nah, ini yang kami coba usahakan," kata dia. seperti dikutip laman resmi Humas Jabar, Rabu (15/1/2020).


Bahkan Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum menyempatkan diri menemui dan menampung aspirasi para pendemo yang menggelar aksinya di trotoar depan Balai Wiyata Guna, Jalan Pajajaran, Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Rabu (15/01/2020).

Uu  mengajak disabilitas untuk tinggal di UPTD Panti Sosial Rehabilitasi milik Dinas Sosial yang berlokasi di Cibabat, Kota Cimahi, menyusul empat siswa disabilitas yang sejak tahun lalu tinggal di sana. 

Pemprov Jabar juga siap memenuhi segala kebutuhan para disabilitas. Juga memenuhi fasilitas baik fisik ataupun program vokasi yang biasa mereka dapatkan di Balai Wyata Guna.

Sedangkan Pemkot Bandung bereaksi dengan mengutarakan tidak memiliki kewenangan atas Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna Bandung. Meski begitu, Pemkot siap memberikan bantuan apapun yang dibutuhkan.

“Jadi masalah Wyata Guna sebetulnya kewenangannya ada di Kemensos Republik Indonesia dan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat,” ucap Tono Rusdiantono, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung di halaman BRSPDN Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Bandung, Rabu (15/1/2020).

Sejak mantan penghuni BRSPDN Wyata Guna memutuskan bertahan di trotoar, Tono langsung berkoordinasi bersama dinas terkait yang berwenang di level Pemerintah Provinsi (Pemprov). Hasilnya, masalah BRSPDN Wyata Guna sudah tertangani.

“Sejak tiga hari lalu saya sudah berkoordinasi dengan provinsi. Pemerintah Kota Bandung siap membantu dalam berbagai hal apabila diperlukan. Dan setelah berkoordinasi dengan provinsi bahwa semua sudah selesai dan pemerintah kota diharapkan tidak ada gerakan apapun,” jelasnya.

Semuanya kelihatan sudah tertangani, semuanya sudah tertampung, dan sudah tertangani. Tetapi ada satu yang para pihak terkait lupakan soal gonjang ganjing warga eks Wyata Guna ini. Yaitu esensi dibalik semuanya. 

Bukan tentang solusi sesaat lalu mereka anggap permasalahan selesai. Apa yang eks warga Wyata Guna inginkan adalah tentang masa depan, mereka memiliki rumah mereka kembali. Rumah yang selama ini membuat mereka merasa nyaman berada di dalamnya. 

Itulah tragedi kemanusiaan ketika seseorang kehilangan tempat bernaung yang selama ini membuatnya terlindung, merasa diperhatikan, merasa nyaman. Rumah yang oleh para disabilitas netra mereka sebut Panti Wyata Guna. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya