backgroud
logo

Opini

 

Herd Immunity dan Konsekuensinya dalam Penanganan Pandemi Covid-19

Herd Immunity dan Konsekuensinya dalam Penanganan Pandemi Covid-19

 
Herd Immunity dan Konsekuensinya dalam Penanganan Pandemi Covid-19
Herd Immunity dan Konsekuensinya dalam Penanganan Pandemi Covid-19. (wjtoday/yoga enggar)
WJtoday
Minggu, 22 Maret 2020 | 17:57 WIB
MAJU-mundur saya mau nuliskan ini. Sudah sejak dua hari lalu. Takut disalahartikan. Karena teori dan pilihan skenario ini berat. Nampaknya nggak ada pilihan lain.

Kemarin saya nggak memproduksi tulisan apa-apa. Diam. Banyak diskusi dengan seorang mahasiswa Doktoral di Univ Pisa Italia. Diskusi juga dengan sahabat yang lagi nemenin istrinya S3 di Belanda. Bincang juga dengan dokter yang lagi ambil Sub Spesialis di Kobe, Jepang. Simpulannya sama: Herd Immunity.

Sebelum saya menuliskan skenario ini. Saya izin menyampaikan disclaimer dulu. Saya orang awam. Bukan ahli apa-apa.

Latar belakang pendidikan sempet kuliah engineering. Sempat doang. Jadi tulisan saya boleh dikritik, karena saya bukan virolog, bukan juga dokter klinis, atau expert di bidang Corona. Jadi dalam membaca tulisan saya, jangan begitu percaya. Tulisan orang awam. Biasa aja.

Saya menulis ini karena dorongan banyak temen-temen. Saya menyadari punya kemampuan menulis. Maka niatnya membantu orang lain mudah faham. Maka saya menulis, agar kemudian kita memahami jalan keluar dari kabut gelap kedepan.

Bombardir pertanyaannya selalu sama.
Menurut ente kapan Rend ini berakhir?
Vaksin bakalan bener ada atau nggak?
Ini jalan keluarnya kira-kira bagaimana ya?
Dan seterusnya.

Pertanyaan itu yang membuat saya tenggelam dalam berbagai literatur ilmiah. Dalam dan luar negeri. Hingga website resmi corona virus yang berbahasa Italia itu saya coba terjemahkan satu-satu istilahnya di grafik. Capek memang.

Pertanyaan itu pula yang menggiring kepala saya pada satu skenario paling mungkin di Indonesia: Herd Immunity.
***

Agar kita bisa memahami tentang pilihan sulit ini, izinkan saya membahas tentang apa yang dilakukan Wuhan, Korsel, dan Italia versus dengan apa yang dilakukan Iran.

Di Wuhan, Korsel, dan Italia, skenario lockdown terbukti berhasil. Karena memang warganya dan pemerintahnya punya kapasitas.

Warganya punya tabungan untuk hidup ke depan. Warganya teredukasi. Hampir semua connected. Jadi komunikasi keputusan negara mudah.

Beda kayak di negeri ini, masih ada yang belum terjangkau internet. Adapun punya smartphone dan internet, aplikasinya joget. Nggak bisa akses info ilmiah.

Pemerintah China dan Italia juga punya sumber dana. Ngasih diskon, ngasih bantuan, menjaga suplay pangan.

Bukan berarti Indonesia nggak punya dana? Ada. Tapi nggak bisa untuk segini banyak orang.

Konsep lockdown ini seperti "menghapus file". Anda seperti pukul nyamuk satu-satu.

Virus ini makhluk yang butuh inang. Butuh reservoir untuk hidup. Butuh agen. Butuh nempel di makhluk hidup agar dia bisa eksis.

Maka virus tanpa inang akan mati. Tanpa menempel di inang, ia akan selesai. Begitu teorinya. Waktu bertahan tanpa inang berbeda pendapat antarilmuwan. Nggk akan saya bahas.

Wuhan, Korsel, Italia, menerapkan pola ini : virus pada manusia dipaksa mati dengan antibodi. Virus di luar tubuh manusia dibiarkan mati, hilang, atau dibersihkan.

Yang positif diisolasi, yang sakit berat dirawat.  Yang nampak tidak bergejala juga dites massal. Untuk dicari yang positif yang mana. Begitu positif, diisolasi lagi.

Kenapa? karena menjadi carrier tanpa gejala inilah yang menjadi biang nggak selesainya sebaran kasus.

Maka Wuhan dan Italia sangat ketat dengan lockdown. Kalau warga Korsel, tanpa disuruh pun sudah teratur lockdown. Mirip Jepang.

Mereka tahan semua orang di dalam rumah. Karena andai yang di dalam rumah nggak dites, virus akan mengalami masa inkubasi hingga 14 hari. Bakal mati sendiri. Apalagi Wuhan menjalani lockdown 2 bulan.

Wuhan secara strategi sebenarnya menahan interaksi sosial. Lalu membiarkan yang sebenarnya positif walau tidak dites memiliki antibodi dengan sendirinya.

Begitu juga yang dilakukan di Italia. Di-lock. Diberesin satu demi satu. Hingga targetnya zero casses per day seperti Wuhan.

Secara garis bessr begitu. Hingga Wuhan hari ini memulangkan dokter-dokternya. Menutup rumah sakit darurat. Dan sudah 3 hari ini, zero case Covid-19. Mereka sudah statement menang atas Corona. Strateginya begitu. Total lockdown. Semua diisolasi di rumah. Disiplin.

Rumus ini akan buyar kalau yang satu mau di isolasi, sementara yang lain masih keluyuran. Bubar dah skema lockdown.
***

Sekarang kita ke negeri ini, kita buka mata dan hati ya. Saya sampaikan ini murni pendapat atas masalah kemanusiaan. Sentimen politik kita bahas nanti. Bukan saatnya.

Begini...

Ramai di linimasa ini, sahabat dominan menyerukan lockdown. Menganggap bahwa skenario Wuhan dan Italia bisa kita lakukan.

Dari apa yang saya lihat hari ini --semoga saya salah-- Total Lockdown bukan skenario kita. Kecuali cuma slowdown soci distancing, bubarin keramaian. Itu masih bisa. Tapi kalua nge-keep warga di rumah. Hmmm.. Susah.

Lockdown itu membutuhkan jumlah petugas yang cukup. Di Italia, polisi mondar-mandir, yang keluar tanpa keperluan didenda ratusan euro. Cek aja linimasa. Banyak beritanya.

Itu saja sudah pakai polisi, terjadi puluhan ribu pelanggaran. Masih saja keluar.

Lalu kita lihat di Indonesia. Jelas sulit

Bisa dibayangkan polisi kita nahan masyarakat nggak keluar rumah, yang keluar didenda. Ditilang aja ngamuk kok. Apalagi didenda untuk sekadar keluar rumah. Wah.. Chaos.

Belum lagi, di Wuhan dan Italia, mereka punya solusi, kalau diam di rumah, stay at home, work for home, makan mereka terjamin. Di Indonesia rada repot.

Di kita, kalau nggak keluar rumah, makannya gimana? Seriusan ini.

Saya nulis begini bukan berarti besok Anda langsung ngumpul-ngumpul dan keluar rumah. Arah tulisan saya nggak ke situ.

Saya cuma ingin buka mata kita semua. Lockdown kayak Wuhan dan Italia, untuk negeri dengan sosiokultur kayak Indonesia. Nggak bisa.

Ramai kan di berita, sudah jelas jadi suspect, malah bantu-bantu nikahan tetangga. Ditelpon sama Dinkes untuk ngontrol, malah ngakunya di rumah, padahal jalan-jalan.

Itu cuma ngisolasi 1 orang, kita nggak sanggup lho. Asli. Apalagi 271 juta jiwa di-hold. Atau Jabodetabek saja deh, 25 jutaan warga, di-hold nggak boleh keluar rumah kompak. Gak bisa. Beneran.

Menutup event-event perkumpulan insya Allah bisa. Meniadakan gathering ibadah bisa. Insya Allah. Tapi kalo total lockdown. Apalagi bahasanya lockdown antardaerah. Nampak risiko sosialnya besar dan ini juga yang kayak-nya ada di pikiran Pak Jokowi.

Maka bisa dilihat di Iran. Mereka masih terus aktivitas. Adanya yang terjangkit Covid-19 dan sakit berat, ya mereka hadapi. Nanti saya jelaskan di tulisan berikut, kenapa Iran begitu.
***

Keadaan di atas membuat skenario "pukul nyamuk satu-satu" nggak mungkin jalan.

Kita nggak bisa paksa warga di dalam rumah. Kita nggak bisa membersihkan pergerakan.

Akan tetap terus terjadi pergerakan massa, walau kecil. Padahal yang bergerak bisa jadi sudah positif Covid-19 namun tanpa gejala apa-apa. Ini yang membuat skenario lockdown buyar.

Belum lagi dengan slowdown-nya Jakarta. Dan status Jakarta menjadi episenter pendemi. Membuat banyak warga Jabodetabek mudik ke kampung halaman.

Panah-panah merah sudah menyebar ke daerah. Ini seperti anak-anak muda Lombardi yang mudik ke Italia selatan. Persis.

Intinya skenario Lockdown sulit jalan. Lalu bagaimana mengakhiri wabah ini?

Satu-dua expert sudah mulai bicara. Walau malu-malu. Kecuali Menteri Pertahanan Israel yang pada akhirnya bicara tentang ini juga: Herd Immunity. Termasuk PM Inggris Pak Borris.

Begini,

Virus yang menjangkiti tubuh akan diserang oleh antibodi ini. Inilah tafakur mendalam kita hari ini, antibodi kita menyusun bahan baku serangan untuk Covid-19. Khusus untuk si dia saja.

Maka muncul angka 14 harian, atau kurang, dimana antibodi kita menyusun serangan ke Covid. Hingga antibodi yang khusus dibentuk untuk Covid terbentuk.

Maka setelah terbentuk antibodi alami Covid, tubuh kita kebal Covid. Secara teori, tidak lagi bisa dijangkiti Covid-19. Mudah-mudahan teorinya benar.

Nah, ketika sudah cukup banyak masyarakat yang terjangkiti Covid-19, akan terbentuk "sekawanan" manusia yang sudah kebal Covid-19. Dan di saat itulah terbentuk namanya Kekebalan Kawanan: Herd Immunity.

Coba deh, buka video-video yang viral tentang melandaikan kurva. Kan di situ sudah diberitahu, bahwa pada akhirnya semua orang akan terjangkit. Tinggal kecepatan lonjakan yang gejala berat saja. Itu yang diperlambat.

Ikhtiar social distancing kita akan ke situ arahnya. Melandaikan kurva. Memberikan waktu bagi paramedis untuk melayani yang sakit berat. Jangan sampai okupansi rumah sakit nggak cukup. Maka jangan sampai yang positif Covid dan gejala berat jumlahnya puluhan ribu atas satu waktu.

Teori Herd Community ini berat untuk disampaikan. Secara ilmiah, 6-70% masyarakat akan terjangkit. Dan kemudian mayoritas yang bertahan akan membentuk antibodi alami.

Di Wuhan, mungkin nggak butuh sampai 60-70 persen. Karena mereka total lockdown. Mereka sampai semprot kota pakai disinfektan 2 hari sekali. Memang targetnya bunuh virus. Bisa jadi juga mereka sudah menemukan vaksin. Sudah di-shot ke sebagian besar populasi. Itu juga bikin Herd Immunity.

Italia juga nampak cara memeranginya sama. Total Lockdown.

Namun lihatlah Iran, mereka nampaknya pakai teori ini, biarkan semua terpapar pada akhirnya. Mereka nggak punya kapasitas untuk lockdown. Yang ada tinggal gali kuburan massal di Qom. Ini fakta.

Nampak Iran sudah memahami track-nya. Berharap Herd Immunity. 

Iran menjadi parah karena adanya embargo dari US, yang membuat alat-alat medis kurang. Iran sampai mau minjam ke IMF untuk perawatan. Skenario paparan maksimal memang butuh persiapan.

Walau skenario terpapar cepat tidak kita pilih, melihat kondisi negeri dan perilakunya, inilah yang sebenarnya akan kita hadapi.
**

Saya secara pribadi berharap, slowdown dan social distancing yang kita lakukan sekarang akan memperlambat penularan, memberikan waktu pada fasilitas kesehatan untuk bersiap. Tapi tidak bisa mencegah penularan pada semua.

Adapun waktu yang terus berjalan, semoga bisa menjadi buying time untuk menunggu vaksin.

Sampai di titik ini, Anda pembaca mungkin merasa saya mendoakan yang buruk untuk negeri. Sama sekali tidak. Ini ulasan ilmiah dari studi literatur saja. Bahwa begitulah wabah berakhir. Hampir semua orang terjangkit dan membentuk antibodi alami.

Semoga sampai di sini hati tetap dingin dan optimistis. Karena ini baru setengah tulisan. Berikutnya saya akan menuliskan tentang konsekuensinya.
***

Target saya menulis ini adalah... agar kita sebagai anak bangsa bisa memitigasi konsekuensinya.

Karena inilah yang saya bisa rasakan dan simpulkan. Walau mudah-mudahan salah. Herd Immunity ini skenario negeri kita.

Konsekuensi Pertama Bersiap Terpapar
Slowdown di rumah ini harus menjadikan kita pribadi yang sehat jasmani dan batin. Karena paparannya cepat atau lambat akan segera datang. Apalagi si Covid ini rada bandel, cepat menular.

Makan yang bergizi, perkuat imunitas tubuh, istirahat yang cukup, olahraga gerakkan tubuh, bantu tubuh menyiapkan metabolisme yang optimum, untuk memproduksi antibodi Covid secara mandiri.

Untuk urusan ini sudah banyak yang menuliskannya. Saya nggak mau nulis ulang. Silakan cari sendiri.

Termasuk persiapan batin, mulailah memaafkan diri sendiri, memaafkan orang lain, saling mendoakan. Kita perlu batin yang sehat untuk masa-masa ekstrem seperti ini.
***

Konsekuensi Kedua Mayoritas jadi Carrier
Dengan demografi anak negeri yang penuh anak muda. Secara statistik, masyarakat kita akan mengalami gejala ringan di anak muda. Bahkan tak bergejala. Maka anak muda negeri ini akan dominan menjadi carrier virus.

Ini juga yang harusnya diedukasi mendalam. Bahwa positif Covid-19 bukan seperti positif HIV. Ini ada diberita, begitu positif Covid-19 malah kabur. Salah faham kayak-nya. Butuh diedukasi.

Dengan simpulan ini, saya menyarankan bangun gerakan pisahkan manula dan anak muda. untuk usia 50 tahun ke atas, jangan sampai berbaur dengan yang muda.

Ingat nggak, 60-70% harus terpapar virus agar terbentuk Herd Immunity.

Kita siasati saja. 60% yang terjangkit itu biar anak muda saja. Kemungkinan illnes beratnya kecil. Di bawah 10%. Begitu kata litaratur ya. Cross cek aja. Nggak maksud sok tahu.

Ini juga termasuk pada risiko kerja. Untuk di rumah sakit misalnya, dokter senior, konsulen senior, mundur aja ke belakang meja. Kontrol dari jauh. Komando dari meja. Jadi penasihat dan pengarah ke dokter-dokter yang under 50. Seriusan ini. Bisa nggak kira-kira. Atau etis nggak kira-kira.

Karena kalau pola paparan mayoritas ini kena ke generasi elder negeri ini, ini yang membuat tingkat kematian tinggi seperti Italia.

Pada orang tua, pada masayikh itu terdapat kemuliaan dan kebaikan, kita sangat perlu keberadaan mereka untuk tetap sehat dan mendoakan kita. Mengarahkan. Dan menasehati.

Baca data yang jujur. China 2 miliar populasi, Italia 60 juta populasi. Angka kematian di Italia sudah melebihi China akan Covid. Ini karena para manula nggak segera dipisahkan dengan yang muda.
***

Konsekuensi Ketiga Siapkan Fasilitas Medis
Angka ilmiahnya sudah ada, 60% Terjangkit. Mayoritas tanpa gejala. 20% gejala ringan. Bisa isolasi mandiri. 10% gejala berat yang dimana sepertiganya diprediksi meninggal. Maka muncul angka kematian 3%. Coba simulasi aja. Gak nakut-nakutin, agar kita bersiap.

Barusan saya sudah ketik simulasi angkanya. Tapi saya nggak tega. Jadi saya hapus lagi. Hitung saja sendiri ya.

Intinya,....

Jangan sampai kayak Italia hari ini, kaget nggak ada tempat rawat. Padahal Italia ini negeri yang kesehatan gratis. Kesehatan ini jadi nomor 1 perhatian. Ujian memang. Kita doakan segera berlalu.

Akhirnya sibuk bangun tenda darurat. Sibuk nyari gedung untuk rumah sakit. Full sampai lorong-lorong terpakai semua.

Kita jangan sampai kaget di akhir. Mumpung ada waktu, siapkan saja dari sekarang.

Jangan menunggu instruksi pemerintah, sediakan aja secara swadaya dari arus bawah. Siapkan bangunannnya. Bed-nya. Pelan-pelan.

Dengan skenario terpapar 60% populasi, lebih baik mumpung ada waktu kita bersiap. Karena jumlah penduduk kita 4,5 kali Italia. Beneran.

Saya sudah teriak-teriak berkali-kali, kalau pendekatan pencegahan/preventif nggak bisa, ya sudah fokus pengobatan.

Maka saya membaca langkah Pak Jokowi, beliau sebenarnya menuju pada Herd Immunity.

"5 juta obat sudah dibeli"

Ini sudah langkah pengobatan. Adapun ceramah tentang pembatasan gerak, hanya normatif.

"Mohon pada pemerintah daerah untuk memperhatikan prosedur kesehatan"

Tafsirnya luas. Tapi kalau niat ngobatin, jelas, beliau impor obat. Jelas sudah arahnya.

Wisma Atlet, towernya akan dijadikan rumah sakit darurat.

Ada pulau yang disiapkan jadi Pulau Isolasi.

Arah pemerintah ini nampak bersiap mengobati dan merawat ketimbang me-lockdown. Karena perhitungannya bisa jadi kita banyak anak muda, memang yang diharapkan antibodi alami anak negeri yang bekerja. Lalu selamatkan yang elder.

Maka konsekuensi ketiga ini perlu kita dalami.

Satu masjid satu rumah sakit darurat.

Pak Erick Tohir saja sudah calling relawan. Oprec relawan secara nasional. Ndak lama lagi akan banyak program wakaf dan infaq alat medis.

Memang ke situ arahnya. Virus akan memapar ke mayoritas anak bangsa. Biarkan Herd Immunity terbentuk dengan sendirinya.

Yang perlawanan antibodinya tanpa gejala ya alhamdulillah.

Yang sakit ringan-sedang bisa isolasi mandiri di rumah. Semoga rumahnya ada. Repot kalau yang nggak punya rumah, kamarnya nggak cukup, perlu ada rumah isolasi tambahan.

Yang sakit berat, semoga fasilitas kesehatan kita bisa obati dan tanggulangi.

Dan semoga angka kematian rendah. Angka 8,5% death rate itu karena di kita belum banyak yang tes Covid. Kasihan Pak Jokowi, jadi bulan-bulanan data yang kurang representatif.

Saya yakin death rate kita kecil. Coba saja nanti mass rapid test. Akan banyak yang positif tanpa gejala, dan death rate akan kecil sekali. ***

Rendy Saputra
Owner/Managing Director di Berkah Box Indonesia
Petroleum Engineering di Institut Teknologi Bandung

WJT / dms

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya