backgroud
logo

Pendidikan

 

UN 2020 Dibatalkan, Syarat Kelulusan SMA Ditentukan Nilai Rapor 5 Semester Terakhir

UN 2020 Dibatalkan, Syarat Kelulusan SMA Ditentukan Nilai Rapor 5 Semester Terakhir

 
UN 2020 Dibatalkan, Syarat Kelulusan SMA Ditentukan Nilai Rapor 5 Semester Terakhir
Kepala Bidang PMA Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar Ir H Yesa S Hamiseno. (istimewa)
WJtoday
Kamis, 26 Maret 2020 | 02:16 WIB
Wjtoday, Bandung - Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Atas (PMA) Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar Ir H Yesa S Hamiseno menegaskan, pada tahun ajaran 2020 ini, Ujian Nasional (UN) tidak lagi menjadi syarat kelulusan atau seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Yesa menjelaskan, mengacu pada Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Makarim No 4/2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19), yang disampaikan kepada gubernur, wali kota, dan bupati se-Indonesia, bahwa UN tahun 2020 dibatalkan, termasuk Ujian Kompetensi sekolah kejuruan. Dengan dibatalkannya UN 2020, tegas Yesa, maka UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan seperti tahun-tahun sebelumnya. 

"Sebagai ganti syarat kelulusan tersebut, untuk jenjang SMA bisa ditentukan berdasarkan nilai rapor 5 semester terakhir. Sementara nilai Semester 6 atau Kelas 12 bisa digunakan sebagai nilai tambahan," ungkap Yesa saat ditemui di Gedung Disdik Jabar, Jalan Dr Rajiman Kota Bandung, Rabu (25/3/2020).

Perihal proses belajar siswa, Yesa menegaskan, Disdik Jabar sepenuhnya mengikuti aturan dari pemerintah pusat. Bahwa para siswa dari berbagai jenjang, bukan hanya SMA/SMK melakukan belajar di rumah melalui pembelajaran daring atau jarak jauh.

"Dilaksanakan untuk memberikan pelajaran yang bermakna, tanpa terbebani tuntutan guna  menuntaskan semua capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan," ucap Yesa.

Menurutnya, proses belajar di rumah bisa difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup. Antara lain mengenai pandemi Covid-19. Aktivitas dan tugas belajar dari rumah tersebut pun bisa dilakukan bervariasi sesuai minat dan kondisi siswa masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses atau fasiltas belajar di rumah yang bersangkutan. 

"Bukti siswa belajar dirumah, harus diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor atau nilai kuantitatif," tegasnya. 

Yesa menambahkan, dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau bantuan pendidikan lainnya bisa digunakan  untuk pengadaan barang sesuai kebutuhan sekolah, termasuk untuk biaya keperluan pencegahan penyebaran virus Corona.

"Seperti pengadaan hand sanitizer, kebersihan,  disinfectan, serta masker bagi warga sekolah. Juga membiayai pembelajaran daring atau jarak jauh," pungkas Yesa. ***

WJT / dms

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya