backgroud
logo

Trensosial

 

Cara Paling Akurat Deteksi Covid-19 dengan Metode PCR, Bukan Rapid Test

Cara Paling Akurat Deteksi Covid-19 dengan Metode PCR, Bukan Rapid Test

 
Cara Paling Akurat Deteksi Covid-19 dengan Metode PCR, Bukan Rapid Test
Cara Paling Akurat Deteksi Covid-19 dengan Metode PCR, Bukan Rapid Test. (variety.com)
yuga m hassani
Rabu, 1 April 2020 | 13:44 WIB
WJtoday, Bandung - Dokter ahli paru Widhy Yudistira Nalapraya mengatakan jika melakukan tes Covid-19 dengan menggunakan metode rapid test atau tes cepat kelemahannya adalah virus baru akan terdeteksi kembali pada hari ketujuh.

Ia menjelaskan jika di pemeriksaan awal  hasilnya negatif, pada tujuh atau delapan hari kemudian saat melakukan pemeriksaan kembali bisa saja hasilnya berubah.

"Sebetulnya cara paling akurat untuk mendeteksi seseorang terpapar atau tidaknya virus corona itu dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) tapi alatnya masih terbatas. Sehingga saat ini lebih banyak orang yang menggunakan metode rapid test," ujar Widhy, Rabu (1/4/2020).

Widhy menyebut cara penularan Covid-19  terjadi melalui infeksi droplet atau percikan yang keluar saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Sehingga, lanjut Widhy, droplet orang positif terinfeksi virus ini dapat menempel ke berbagai benda sehingga memungkinkan tangan penyentuhnya tercemar.

"Orang yang rentan terpapar Covid-19 adalah mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah. Agar dapat terhindar dari penyebaran virus Covid-19, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan kesehatan, salah satunya dengan berjemur di bawah sinar matahari," katanya.

Menurutnya dengan cara berjemur antibody orang akan naik dengan pemberian vitamin D3 dan bisa memanfaatkan matahari untuk mendapatkanya. 

"Jadi berjemur selama kurang lebih 30 menit di jam delapan sampai jam sepuluh itu bisa menambah daya imun tubuh kita. Kemudian, disempurnakan dengan rutin mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang mengandung vitamin C," jelas Widhy yang juga Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba).

Pihaknya menjelaskan Covid-19 merupakan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan dan saluran pencernaan, pada beberapa kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti batuk ringan, sesak nafas, flu dan diare. 

"Virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru, akut gagal nafas, serta pendarahan saluran cerna bagian atas dan bawah," paparnya.

Menurutnya meskipun infeksi Covid-19 bisa menyebabkan penderitanya mengalami berbagai gejala, namun tak sedikit dari mereka yang hanya menunjukkan gejala ringan. 

"Dari jumlah pasien yang dinyatakan positif Covid-19, sebanyak 81% di antaranya hanya mengalami gejala ringan bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali," pungkasnya. ***

ymh / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya