backgroud
logo

Opini

 

Kenapa Lebaran?

Kenapa Lebaran?

 
Kenapa Lebaran?
Kenapa Lebaran?. (99.com)
WJtoday
Jumat, 22 Mei 2020 | 16:36 WIB
WJtoday, Bandung - Hari raya tinggal menghitung hari, baru tahun ini, mendengar kata Lebaran, hati ini menjadi gundah. Bukan hal ihwal uang tunjangan gono-gini dari tempat bekerja, itu sih, sudah biasa. Tapi ketika kita harus berdiam diri di rumah, tanpa ada Salat Iedul Fitri di lapangan, tidak dapat saling berangkulan dengan sanak saudara untuk saling memaafkan, dan bersuka cita, tentu memicu suasana hati yang kelam.

Tradisi adalah tubuh manusia. Begitulah kira-kira para pakar berpendapat. Menginjak minggu kedua puasa. Saya mengobrol daring, dengan para sepupu, sekedar bertegur sapa di udara. Obrolan ringan saja, bertanya kondisi masing-masing, dan tentu saja cerita masing-masing mengenai pandemi yang masih berlangsung. 

Alur cerita berlanjut, kenangan ketika masa kecil, geli, menertawakan diri masing-masing, tidak lama obrolan selesai, maklum pakai aplikasi gratisan, waktunya terbatas. Tapi, cerita tersebut membawa alam kenangan kembali ke masa lampau.  

Hampir tiga tahun lalu, Ambu mulih ka jati mulang ka asal, sewaktu Ama mangkat dan Ambu menua, kondisi fisik yang tidak memungkinkan kalau saya harus mengajak beliau berlebaran di kampung. Beberapa tahun belakangan, saya hampir tidak pernah meninggalkan rumah, ketika lebaran tiba. Ritual lebaran yang biasa kami lakukan, ketika beliau masih hadir adalah membersihkan rumah, menata, memasak, dan menunggu tamu untuk datang setelah shalat id. 

Kegiatan berlangsung selama satu minggu penuh, saudara jauh hadir bersilaturahmi. Kami hanya duduk manis, menunggu tamu datang, dan bersalam salaman. Beberapa saudara ada yang rutin hadir, satu tahun sekali ketika lebaran tiba. Ritual kue dan makanan khas Idulfitri tersedia.

Ambu mangkat, saya seperti orang bingung. Kemana kami akan berlabuh ketika Idulfitri tiba. Satu kali kami berlebaran di rumah, sedih menghampiri, ingat Ambu dan Ama, lebaran tahun berikut, ikut ber-Idulfitri di kediaman Teteh, kakak saya yang perempuan, cukup mengobati kehilangan. Tahun ini, kami, kembali hijrah berlebaran di rumah Engkang, sebelum mereka pergi ke Garut. 

Ada waktu dimana kesadaran akan masa lampau hadir dalam diri saya. Masa masa ketika kami bersama. Sewaktu saya kecil, lebaran paling sering dilakukan di Garut, walaupun pada suatu saat kami harus berlebaran di Bandung karena sesuatu dan lain hal, pada hari itu juga pasti kami akan kembali ke Garut, ke rumah Enin, ibu dari Ama. 

Ramadan tiba seingat saya libur juga telah tiba. Saya bisa menghabiskan tiga perempat ramadan tinggal di kampung. Suka cita, saudara sepanjang kampung yang kami kenal, bisa kami tinggali berhari-hari, ibarat kami bisa berpindah tiga puluh kali dengan rumah berbeda. 

Selalu ada teman, satu atau dua orang saudara dekat dan sebaya pasti ada yang berlibur dan mengisi puasa di kampung. Kegiatan yang paling sering kami lakukan adalah, “nguseup”, di sepanjang “susukan” atau selokan dari mulai Cipanas sampai dengan Tarogong di Garut. Lauk “beunteur”, sesekali ikan “nila” bisa kami bawa pulang sebagai penganan untuk berbuka. 

Saya sulit menjelaskan sejenis apa ikan “beunteur” dan “nila”, tapi yang pasti itu adalah jenis ikan yang paling banyak didapat ketika kita mancing di susukan. Jikalau yang digoreng adalah ikan mas, bahkan gurame, maka kail pancing kita pasti salah arah, kemungkinan masuk ke ”balong” atau kolam, bukan ke “susukan”. 

Seusai magrib dan berbuka, ritual yang dilakukan seperti biasa, tarawih, masjid tidak jauh dari rumah, hanya sepelemparan tombak. Semakin berdesak-desakan semakin bersemangat. Awal awal rakaat masih pemanasan, ketertiban masih terkendali, hanya sesekali ada suara “amin” yang diperlambat dan dikeraskan.  Semakin lama suara “amin” makin menjadi, seperti suara “koor” kodok yang saling bersahut sahutan. 


Situasi semakin panas meningkatkan ide dan kreativitas, badan sudah semakin terkondisikan, ide memeloroti sarung, sampai mengganjal dengan sandal ketika ruku, tak terbantahkan, atau mendorong teman di samping sampai terjungkal merupakan hal lazim dilakukan. Tidak ada yang mencoba menengahi atau melerai, seperti layaknya ritual saja. Kenyataan, ibadah dan kesenangan berjalan berdampingan.

Tarawih selesai, beralih pada “bedug” dan “kohkol”, bedug semacam “drum” tradisional, terbuat dari kayu, diameter sebesar 50 cm, dan panjang sekitar 2 m, bagian atas ditutup kulit, jikalau dipukul akan menghasilkan suara yang bergema. Adapun “kohkol” dibuat gelondong kayu kira kira sebesar paha manusia dewasa, bagian tengah diberi lubang untuk menghasilkan suara nyaring. Perpaduan “bedug” dan “kohkol” seperti layaknya orkestra tanpa dirigen. 

Memukul “bedug” dan “kohkol” dengan rampak, akan menghasilkan irama sangat harmonis, semua ikut berjoged, tua muda ikut berbahagia. Waktu tidak terbatas, kami berhenti apabila badan sudah lelah, atau lapar kembali melanda. Membubarkan diri dengan tertib.

Pesta lebaran semakin dekat, Ambu membuat kue-kue khas hari raya. Semacam tradisi bahwa kue harus dibuat sendiri, berbelanja keju, tepung, dan segala macam keperluan untuk membuat kue, dibeli di toko perlengkapan khusus membuat kue di jalan Oto Iskandar Dinata Bandung, Toko “Ny Liem”, berseberangan dengan makam para turunan bupati Bandung. Keju “Edam” adalah bahan pembuat kue yang paling saya ingat, berbentuk bulat seperti apel. Lucu! Membangkitkan selera.

Kue yang biasa dibuat, mungkin jenis-jenis kue berasal Eropa atau Belanda, seperti “nastar”, “kastengel”, “Lidah kucing” dan “kue semprit”. Selama hampir dua minggu sebelum lebaran tiba, rumah selalu wangi kue, menggoda sekali, tantangan bagi yang berpuasa. Ambu dibantu beberapa orang, kerabat dekat, panggangan kompor atau oven selalu menyala. 

Selesai dipanggang ada petugas khusus, yang menyusun kue yang sudah matang ke dalam keler dan ditumpuk secara artistik, keler semacam toples penyimpan. Dulu keler ini terbuat dari kaca dengan tutup dari kaca juga, berat dan terlihat gagah, sekarang kebanyakan jenis toples berbahan dasar plastik, ringkih. 

Sementara di tempat lain, Uwa Kayah, kakak dari Ambu, sibuk memproduksi makanan tradisi, rangginang, bugis, saroja, manisan pala, sagon, serta “lalawuh” khas kampung kami.

Menjadi keniscayaan, ketika hari raya nanti tiba, tradisi Eropa dan kearifan lokal bersanding bersama diatas meja, satu dan yang lain tidak merasa lebih rendah, siap disantap, mantap merayakan hari kemenangan.  

Belum lagi, masakan untuk lebaran, jelas dipersiapkan oleh seluruh anggota keluarga, karya bersama, memasak bersama. Tugasnya pasti berbeda beda, tidak perlu semacam Surat Keputusan atau rapat koordinasi. Kemampuan pribadi, disesuaikan keahlian. Kemampuan mencampur bumbu berada pada garda terdepan. Kelihaian memotong, dan membersihkan, sebagai tim pendukung, yang lain menjadi penyemangat. Sore hari, masakan khas lebaran siap tersaji, opor ayam, gule, lontong, ase cabe, dan rendang daging, makanan lezat, siap disantap. Gotong royong acuan utama. Tidak lupa baju barupun siap tayang.

Hari raya tiba! Ritual salat Idulfitri usai, kami merayakan kebersamaan, makanan dan kue menjadi teman. Lebaran bagi saya, bukan hanya hal ihwal ibadah, ada sesuatu menyeruak dalam diri, menghadapi kesalehan bukan hanya tentang kehidupan setelah mati, ketaatan membangun kegembiraan secara kolektif patut untuk diperjuangkan sebagai bagian relijiusitas, nyata dan terasa. 

Semoga setelah semua cobaan ini, kita kembali dapat merayakan kenangan yang sama. ***

* T.Kartasudjana (Pengajar DKV FISS UNPAS)

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya