backgroud
logo

Bisnis

 

Terdampak Pandemi, KAI Sebut Pendapatan Anjlok Rp24,2 M per Hari

Terdampak Pandemi, KAI Sebut Pendapatan Anjlok Rp24,2 M per Hari

 
Terdampak Pandemi, KAI Sebut Pendapatan Anjlok Rp24,2 M per Hari
Terdampak Pandemi, KAI Sebut Pendapatan Anjlok Rp24,2 M per Hari. (antara)
WJtoday
Sabtu, 23 Mei 2020 | 04:51 WIB
WJtoday, Bandung-  Pendapatan harian PT Kereta Api Indonesia (Persero) anjlok hingga Rp24,2 miliar per hari selama pandemi virus corona. Perusahaan mencatat rata-rata pendapatan per hari mencapai Rp20 miliar hingga Rp25 miliar pada hari normal.

Namun, sejak masa pandemi covid-19 pendapatan harian hanya mencapai Rp800 juta per hari.

"Untuk pendapatan dari penumpang itu rata-rata harian Rp20-25 miliar dalam satu hari. Dalam masa COVID-19 ini, pendapatan harian hanya sekitar Rp800 jutaan," kata Direktur Utama KAI Didiek Hartanto, seperti dikutip Antara. Jumat (22/5/2020).

Didiek menambahkan selama Januari 2020 total pendapatan dari penumpang mencapai Rp39 miliar dan pada April 2020 sebesar Rp32 miliar. Dia memaparkan merosotnya arus kas yang terjadi pada KAI juga dipengaruhi oleh pembatasan kapasitas penumpang kereta baik jarak jauh maupun Kereta Rel Listrik (KRL).

Pasalnya, lanjut dia, kapasitas kereta api jarak jauh hanya diperbolehkan maksimal 50 persen dan KRL 35 persen dari kapasitas semestinya dalam rangka mengikuti Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 tentang tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19 serta Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 4 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

Didik juga telah menyiapkan skenario terburuk serta asumsi kinerja apabila covid-19 bertahan hingga Agustus 2020 dan Desember 2020 mengingat sumber pendapatan dari penumpang tergerus hingga 90-93 persen.

"Terjadi gap terhadap cash biaya turun tidak secara proporsional karena terjadi operational cash flow defisiensi yang terjadi mulai bulan Maret. Kami menyiapkan dana-dana kepada perbankan dalam modal yang cukup. Tapi secara likuiditas masih aman, terjaga dengan baik," jelasnya.

Pihaknya juga melakukan efisiensi biaya untuk perawatan kereta yang akhirnya dipangkas atau pembayarannya ditunda.

"Efisiensi biaya kami lakukan pemotongan terhadap biaya-biaya yang bisa dipotong atau ditunda pembayarannya, seperti perawatan kereta kita bicara sama vendor," katanya.

Namun, lanjut dia, kereta yang ditunda perawatannya adalah untuk kereta-kereta yang tidak beroperasi, sehingga aspek keselamatan masih tetap terjamin.

"Pada saat beroperasi nanti standar perawatan sarana total mengacu pada SOP agar selamat, aman, nyaman, sehat sampai tujuan. Keselamatan faktor yang utama," pungkasnya. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya