backgroud
logo

Opini

 

Idulfitri di Tengah Pandemi, Jadikan Puasa Ramadan Bekal Bermuhasabah

Idulfitri di Tengah Pandemi, Jadikan Puasa Ramadan Bekal Bermuhasabah

 
Idulfitri di Tengah Pandemi, Jadikan Puasa Ramadan Bekal Bermuhasabah
Idulfitri di Tengah Pandemi, Jadikan Puasa Ramadan Bekal Bermuhasabah . (WJtoday/Yoga Enggar)
WJtoday
Minggu, 24 Mei 2020 | 03:40 WIB
WJtoday, Bandung - Fajar 1 Syawal 1441 H / 2020 M sebentar lagi akan tiba. Bersama-sama dengan umat Islam semuanya dari segala arah dan penjuru dunia. Dari sabang sampai merauke tak henti-hentinya mengumandangkan alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil.

Hari raya Idulfitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa, yang digemleng sebulan penuh selama bulan Ramadan.

Bulan Ramadan pun sering disebut sebagai momentum introspeksi dan muhasabah diri. Ibarat motor, puasa merupakan saatnya ‘turun mesin’ untuk meneliti dan memeriksa sekaligus memperbaiki berbagai onderdil yang rusak. Ibarat komputer, puasa merupakan proses me-restart diri. 

Restart dapat diartikan sebagai proses memulai kembali yang sebelumnya dimatikan beberapa saat. Proses restart diri sangat penting. Metode restart bisa disebut sebagai langkah mengintegrasikan antara software (rohani) dan hardware (jasmani) agar dapat terkoneksi secara baik dan holistik.

Sebagai ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT dengan kaifiyah atau tata cara tertentu, puasa punya tiga dimensi penting. 

Pertama, dimensi ritual formal (fisik). Di sini puasa dimaknai sebagai ritual mencegah dari segala sesuatu yang membatalkan (makan, minum, bersetubuh). 

Kedua, dimensi ritual spiritual (rohaniah). Artinya, puasa sebagai ritual menjauhkan diri dari segala sifat buruk dan sesuatu yang diikuti nafsu. 

Ketiga, dimensi ritual intelektual. Artinya, dengan berpuasa, kita akan semakin tahu siapa sebenarnya diri kita.

Wafi anfusikum afala tubshirun (dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak melihatnya dengan mendalam)” (QS Al-Dzariyat: 21). 

Dengan kata lain, puasa bukan sekadar ritus tahunan yang berisi ritual peribadatan. Namun, puasa menghadirkan ruang untuk merenung dan berkontemplasi. Merekap dan merekam pelajaran apa saja yang dapat kita petik selama setahun. 

Ibarat survei ataupun penelitian, ini merupakan model survei paling akurat dan presisi karena didasarkan bukan hanya pada pengamatan, tetapi atas dasar semua hal yang dialami dengan semua pancaindera.

Tentu tak sekadar berfungsi untuk me-restart diri, puasa kali ini bisa menjadi momentum untuk restart kebangsaan. Pasalnya, bulan Ramadan kali ini berbarengan dengan mewabahnya virus corona yang menjadi sebab penyakit Covid-19.

Sejak pertama kali muncul pada Desember 2019 lalu di Wuhan, China, hingga sekarang, jumlah orang yang positif terjangkit Covid-19 di seluruh dunia sudah menembus angka 5 juta lebih. Sedangkan di Indonesia yang positif sudah menembus angka 21 ribu hingga hari ini.

Covid-19 pun mengubah langkah aktivitas kehidupan manusia secara radikal. Hampir semua aktivitas, bekerja, belajar, berdakwah, berdagang, bahkan berpolitik, dilakukan secara daring atau virtual. Kini manusia dalam posisi yang sama. 

Jika ibadah puasa mampu menghadirkan spirit egalitarisme di kalangan umat Islam di seluruh dunia, di mana semuanya menjalankan perintah yang sama dari Allah SWT (tak peduli warna kulit ataupun derajat sosial seseorang), maka hal sama terjadi saat wabah Covid-19 melanda.

Pandemi mematikan tersebut tidak pandang bulu, siapapun orangnya (kaya atau miskin, muda ataupun tua, dan sebagainya) bisa tertular Covid-19. Karenanya, ibadah puasa yang sudah dijalani di tengah wabah Covid-19 me-restart diri manusia agar merenung dan mengingat kembali kekuasaan Allah SWT. 

Sehebat apapun manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan. Selain itu, kita berharap puasa yang telah dijalankan di tengah pandemi tidak hanya mampu menumbuhkan kepekaan spiritual seseorang, namun juga kepekaan sosial. 

Wujud dari kepekaan sosial ialah sikap empati dan pro-sosial. Empati berarti suatu keadaan di mana orang merasa dirinya berada dalam perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Sementara pro-sosial merupakan tindakan moral seperti rela membantu seseorang yang membutuhkan.

Sebagai musibah kemanusiaan, wabah Covid-19 bukan saja persoalan kesehatan, namun punya ekses turunan berupa dampak sosial ekonomi. Akibat Covid-19, setidaknya terdapat sekitar 1,9 juta warga negara Indonesia yang telah mendapatkan PHK dan dirumahkan. 

Karena itu, umat Islam sebagai mayoritas penduduk di Tanah Air, ketika Idulfitri tiba harus mampu menjadikan bulan puasa yang telah dilalui di tengah pandemi ini sebagai momentum me-restart kesadaran untuk bermuhasabah, berbagi dan berderma. ***
(Pam: dari berbagai sumber)

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya