backgroud
logo

Trensosial

 

Ahli China Sebut Kelelawar Tapal Kuda Inang dari Virus Corona

Ahli China Sebut Kelelawar Tapal Kuda Inang dari Virus Corona

 
Ahli China Sebut Kelelawar Tapal Kuda Inang dari Virus Corona
Ahli China Sebut Kelelawar Tapal Kuda Inang dari Virus Corona. (variety.com)
WJtoday
Senin, 25 Mei 2020 | 14:26 WIB
WJtoday.com - Ahli virologi China Shi Zhengli memberikan perhatian terhadap kelelawar jenis tapal kuda sebagai inang dari virus corona atau COVID-19. Dalam penelitiannya dia menemukan adanya sebuah ras hasil evolusi antara virus corona dan inangnya.

Evolusi itu, sebut Shi, dapat menimbulkan beragam genetik di dalam virus tersebut sebagaimana dikutip Global Times, Minggu (24/5/2020).

Pada saat dunia sedang berusaha keras mencari kesimpulan asal virus dan menuduh China atas lepasnya virus corona dari sebuah laboratorium di Lembaga Virus Wuhan (WIV), Shi memublikasikan temuan barunya yang menegaskan bahwa Rhinolophidae salah satu jenis kelelawar yang merupakan inang dari COVID-19.

Penelitian itu mendapati kelelawar jenis itu membawa banyak virus corona dengan keragaman genetik yang tinggi, terutama dalam protein lonjakan yang menempel pada sel manusia dan menginfeksinya.

Beberapa virus di dalam kelelawar dapat memanfaatkan ortolog protein manusia, yang disebut angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) sebagai reseptor SARS-CoV untuk bisa merasuki dan menginfeksi sel manusia.

SARS-CoV merupakan SARS yang sangat berkaitan erat dengan COVID-19.

Penelitian Shi pertama kali dipublikasikan dalam platform bioRxiv berjudul "Evolusi antara virus dan inangnya memicu beragam genetika dalam kelelawar SARS" pada 14 Mei 2020.

Temuan itu menyebutkan bahwa protein spike SARSr-CoV dan kelelawar tapal kuda ACE2 mungkin telah berevolusi dan mengalami seleksi yang ketat satu sama lain.

Selanjutnya studi tersebut mengarah pada pembuktian bahwa kelelawar tapal kuda telah menjadi inang alami SARSr-CoVs.

Pengawasan berkelanjutan terhadap kelompok virus ini pada kelelawar sangat diperlukan untuk mencegah penyakit serupa SARS berikutnya, demikian penelitian Shi. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya