backgroud
logo

Opini

 

Kampanye bertajuk #StopHateforProfit

Kampanye bertajuk #StopHateforProfit

 
Kampanye bertajuk #StopHateforProfit
Kampanye bertajuk #StopHateforProfit. (StopHateforProfit)
WJtoday
Senin, 29 Juni 2020 | 09:03 WIB
WJtoday - Kampanye seperti #StopHateForProfit mungkin menjadi cara yang lebih efektif yang dilakukan publik untuk menekan perusahaan media sosial agar menandai atau mencabut unggahan yang memicu masalah. 

Publik mungkin frustrasi karena laporan-laporan selama ini tidak mendapatkan tindakan yang cepat. Publik merasa berhak mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam menggunakan media sosial.

Mereka menuding Facebook mencari untung dengan cara menyebarkan kebencian, mengagungkan kekerasan, dan menyebarkan hoaks ke tengah khalayak. Mereka berharap dengan aksi boikot ini Facebook mengubah kebijakannya.

Perusahaan platform media sosial sudah pasti telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah unggahan bermasalah. Mereka menekan unggahan bermasalah dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan. 

Penggunaan teknologi ini di satu sisi baik karena menjadi efisien dalam menangani unggahan bermasalah namun juga memiliki kelemahan. Ada unggahan tertentu yang karena bias nilai suatu suku atau bangsa akan terlewat.

Kasus Facebook menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar berhati-hati ketika berada di media sosial. Pengguna, pemasang iklan, dan bahkan pemilik platform bisa terjeblos ke dalam masalah yang pelik.

Publik yang selama ini terlena dengan kemunculan media sosial mulai menggugat keberadaan media sosial terkait dari mulai isi konten, problem kecanduan bermedia sosial, penyalahgunaan media sosial, hingga ketiadaan pengaturan yang jelas yang kadang membuat konsumen berada di pihak yang lemah.


Lebih dari 100 perusahaan di seluruh dunia yang sudah memastikan terlibat dalam kampanye boikot Facebook ini antara lain Unilever, Verizon, Ben's & Jerry, Levi Strauss & Co, Honda, dan masih banyak lagi.

Facebook menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir karena membiarkan Presiden AS, Donald Trump mengumbar kebohongan, menyebarkan kebencian, dan mendorong publik melakukan kekerasan.

Misalnya beberapa waktu lalu Facebook dikecam karena membiarkan Donald Trump memposting seruan untuk menembak demonstran di tengah gelombang protes terhadap kematian George Floyd, lelaki kulit hitam yang dibunuh polisi di Minneapolis.

Facebook juga membiarkan Trump mengunggah informasi yang salah atau hoaks soal sistem pencoblosan suara dalam pemilihan umum di AS. Pada November nanti Trump akan berusaha mempertahankan kursi nomor satu di AS dalam pemilu.

Kebijakan Facebook ini berbanding terbalik dengan Twitter yang dengan tegas menindak cuitan-cuitan ngaco dari Trump. Twitter misalnya melabeli cuitan soal sistem pencoblosan dalam pemilu AS dari Trump sebagai konten berpotensi hoaks dan menyembunyikan seruannya untuk menembak demonstran.***

WJT / agn

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya