backgroud
logo

Nasional

 

Waspadai Gelombang Kedua, Jokowi Minta Kebijakan New Normal Terus Dipantau

Waspadai Gelombang Kedua, Jokowi Minta Kebijakan New Normal Terus Dipantau

 
Waspadai Gelombang  Kedua, Jokowi Minta Kebijakan New Normal Terus Dipantau
Waspadai Gelombang Kedua, Jokowi Minta Kebijakan New Normal Terus Dipantau. (setkab.go.id)
WJtoday
Selasa, 30 Juni 2020 | 15:31 WIB
WJtoday, Semarang - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pemantauan (monitoring) dan evaluasi terhadap kebijakan saat memasuki masa tatanan baru atau ‘New Normal’ harus terus dilakukan misalnya setiap hari, tiap minggu, maupun per dua minggu.

Lebih lanjut, dia mengingatkan ancaman Covid-19 belum berakhir dan kondisinya juga masih sangat dinamis.

”Oleh sebab itu kita harus menjaga jangan sampai muncul gelombang kedua, jangan sampai muncul second wave,” ujar Jokowi saat memberikan arahan pada peninjauan Posko Penanganan dan Penanggulangan Covid-19, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kompleks Kantor Gubernur, Provinsi Jawa Tengah, Selasa (30/6/2020).

Dia  juga menintipkan pesan saat ini bukan hanya urusan krisis kesehatan namun juga ekonomi karena sekarang demand, supply, dan produksi ikut terganggu.

Menurut Jokowi, kuartal pertama ekonomi masih dapat tumbuh 2,97, namun pada kuartal kedua dikhawatirkan akan berada di posisi minus.

”Inilah yang harus hati-hati mengelola, memanajemeni, krisis ini agar urusan kesehatan dan ekonomi ini bisa berjalan beriringan. Jadi saya harapkan Bapak/Ibu dan Saudara-saudara sekalian, gas dan remnya itu betul-betul diatur,” paparnya.

Ia juga mengingatkan agar jangan sampai melonggarkan tanpa sebuah kendali rem sehingga mungkin ekonomi bagus tetapi Covid-19 naik kembali dan begitu sebaliknya Covid-19 terkendali tetapi ekonomi kesejahteraan masyarakat terganggu.

”Semua negara mengalami dan kontraksi ekonomi terakhir yang saya terima misalnya dunia diperkirakan di tahun 2020 akan terkontraksi minus 6 sampai minus 7,6,” ungkapnya.

Artinya, Jokowi sampaikan secara global sudah masuk resesi dan bahkan tahun ini Singapura diprediksi (-) 6,8, Malaysia (-) 8, Amerika (-) 9,7, Inggris (-) 15,4, Jerman (-) 11,2, Prancis (-) 17,2, dan Jepang (-) 8,3.

Oleh sebab itu, Presiden sampaikan Kepala Daerah bisa mengatur, mengelola, gas dan rem, antara Covid-19, kesehatan dan ekonomi, inilah yang diharapkan.

”Ini menjadi tanggung jawab kita semuanya, bukan hanya Gubernur, Bupati dan Wali Kota tetapi jajaran Forkopimda, TNI, Polri, seluruh gugus tugas agar betul-betul menjaga agar itu bisa berjalan dengan baik,” tegasnya.

Untuk itu, dia menitipkan agar jangan sampai membuka tatanan baru, new normal, tetapi tidak melalui tahapan-tahapan yang benar.

”Setiap kita membuat kebijakan, setiap kita membuat policy, betul-betul tolong yang namanya data science itu dipakai, yang kedua saran-saran dari para saintis, para pakar juga dipakai sehingga dalam memutuskan itu betul-betul tepat sasaran,” kata Jokowi.

Jangan sampai, Presiden menegaskan Kepala Daerah berani membuka masuk ke new normal tetapi keadaan datanya masih belum memungkinkan, sehingga tahapan-tahapan harus betul-betul disiapkan dan tidak dipaksa.

Jokowi  juga menyampaikan bahwa masa prakondisi betul-betul harus dilakukan sehingga timing-nya kapan dibuka harus tepat.

”Jangan sampai Rt-nya masih tinggi diatas 1, R0-nya masih tinggi, kita sudah berani buka, hati-hati jangan membuat kebijakan tanpa sebuah data science yang jelas,” ujarnya.

Kalau sudah prakondisi, timing, dia sampaikan perlu ditentukan prioritas sektor mana dulu yang dibuka, tidak langsung dibuka semuanya, sehingga dapat dipilah misalnya sektor industri ataupun pariwisata namun tentunya perlu dibatasi.

”Tidak usah tergesa-gesa yang karena yang kita hadapi ini dua, kesehatan dan ekonomi, yang semuanya harus berjalan dengan baik. Kalau memang keadaannya naik, ya tutup lagi, harus berani seperti itu, harus berani memutuskan seperti itu,” tandasnya. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya