backgroud
logo

Opini

 

Ada Perubahan Sosial Budaya Akibat Pandemi, Masyarakat Menjadi Shock

Ada Perubahan Sosial Budaya Akibat Pandemi, Masyarakat Menjadi Shock

 
Ada Perubahan Sosial Budaya Akibat Pandemi, Masyarakat Menjadi Shock
Ada Perubahan Sosial Budaya Akibat Pandemi, Masyarakat Menjadi Shock. (the strait times)
WJtoday
Senin, 6 Juli 2020 | 15:10 WIB
WJtoday, Jakarta - Antropolog Dr Kartini Sjharir mengatakan masyarakat mengalami geger (shock) akibat perubahan-perubahan perilaku sosial budaya yang harus dilakukan untuk beradaptasi dengan normal baru dalam pandemi COVID-19.

"Saya sering mendengar keluhan sekarang masyarakat kita kurang disiplin, itu ada benarnya. Tapi masyarakat kita sendiri mengalami suatu shock dengan keadaan COVID-19," kata dia dalam diskusi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB yang dipantau di Jakarta pada Senin (6/7/2020).

Dia menyebut bagaimana masyarakat harus berhadapan dengan berbagai istilah dan perilaku baru akibat pandemi, seperti social distancing atau menjaga jarak yang tidak dikenal di Indonesia sebelumnya. 

Hal itu karena masyarakat dalam perilaku sehari-hari sebelum pandemi tidak melakukan itu, dengan kebiasaan seperti berjabat tangan dan mencium pipi dijadikan sebagai bentuk salam.

Sekarang, kata dia, masyarakat harus menjaga jarak fisik dan melakukan salam tidak boleh dengan bersentuhan. Meski hal itu adalah sesuatu yang diwajibkan saat ini, tapi tidak mudah untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru itu.

"Terutama kalau itu sudah sampai ke akar rumput, ke daerah-daerah. Di mana mengenai masalah COVID-19 ini tidak terlalu banyak dipahami oleh masyarakat," kata penasihat ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (AIPR) itu.

Menurut dia, semua negara kini tengah melakukan eksperimen perilaku akibat pandemi. Beberapa negara mengadaptasi dengan lebih cepat, seperti Jepang yang warganya sudah lebih terbiasa memakai masker dan memiliki pola hidup bersih.

Indonesia termasuk dalam negara yang harus mulai membiasakan diri untuk melakukan berbagai protokol kesehatan untuk menjaga diri dari COVID-19. Adaptasi itu, tegas dia, bukannya tidak mungkin tapi malah sangat memungkinkan meski membutuhkan sedikit waktu.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Staf Ahli Menteri Bidang UMKM dan Ketenagakerjaan Kemenko PMK, Aris Darmansyah Edisaputra, yang mengatakan bahwa adaptasi baru di era COVID-19 adalah upaya bersama seluruh pemangku kepentingan.

Pemerintah sudah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk adaptasi normal baru selanjutnya dibutuhkan peran aktif dari masyarakat.

"Ini bukan hanya tugas pemerintah saja, tapi tugas semua pihak. Pemerintah sudah berusaha dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan tapi itu tidak ada artinya kalau masyarakat tidak melaksanakan itu," tegasnya mengakhiri. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya