backgroud
logo

Opini

 

Gedung Sate Jadi Klaster Baru? Pukulan Buat Emil

Gedung Sate Jadi Klaster Baru? Pukulan Buat Emil

 
Gedung Sate Jadi Klaster Baru? Pukulan Buat Emil
Gedung Sate Jadi Klaster Baru? Pukulan Buat Emil. (humas jabar)
bambang mulyono
Kamis, 30 Juli 2020 | 14:19 WIB
WJtoday, Bandung -  Gedung Sate yang merupakan Kantor Gubernur Jawa Barat (Jabar) yang juga menjadi pusat pemerintahan Provinsi mulai hari Kamis (30/7/2020) ini harus  melakukan  penghentian aktivitas kerja hingga 14 Agustus 2020. Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) diindikasi positif terpapar Covid-19.

Ini pukulan bagi Gubernur Jabar yang wilayahnya sebetulnya termasuk berhasil mencegah banyaknya warga yang tertular. Namun tidak demikian dengan "Rumah Emil Sendiri ".  Sejak pandemi ini berlangsung, di rumahnya sendiri sebelumnya sudah ada korban   1 kepala Dinas dan 1 Kepala Bidang telah meninggal terpapar virus corona.

Bagaimana tidak terpukul, langkah gubernur  dalam mengendalikan penyebaran Covid-19 diganjar apresiasi dari Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan  (PMK) Muhadjir Effendy serta Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto .

Emil, sapaan akrabnya, mengatakan pihaknya memiliki sejumlah strategi untuk mengendalikan penularan Covid-19 di wilayahnya.

Dia menyebutkan, salah satu hal yang menjadi kunci adalah koordinasi maksimal dengan para pemerintah daerah seluruh kabupaten/kota. Mulai dari menggelar rapat virtual mingguan hingga pembentukan tim pelacak data.

"Kunci keberhasilan Jabar ada pada kekompakan kepala daerah dan gugus tugas kota/kabupaten dengan provinsinya. Kedua, saya gayanya enggak top-down, jadi mendengar aspirasi dari bawah kemudian memberikan pandangan secara keilmiahan. Walaupun pandangan politik berbeda-beda, tapi kami sepaham bahwa masalah ini harus dituntaskan bersama-sama," ungkapnya di Bandung, beberapa waktu lalu.

Menurut mantan Wali Kota Bandung itu, transparansi data menjadi hal yang penting agar pihaknya bisa memiliki dasar pengambilan keputusan yang sesuai. Selain itu, kolaborasi dan inovasi juga dinilai perlu untuk ditekankan.

"Kalau baik ya dibilang baik, kalau jelek dibilang jelek. Sehingga kalau (situasinya) jelek, ya kita kasih obat yang sesuai dengan tingkat permasalahannya. Saya kira rumus itu yang diapresiasi. Proaktif, transparan, ilmiah, kolaboratif dan inovatif," sebutnya.

Selain itu di Jabar sudah tidak ada daerah yang berstatus zona merah (risiko tinggi). Dalam dokumen Zona Resiko Kota dan Kabupaten di Jabar  terbaru yang pada 28 Juli 2020, wilayah-wilayah yang tadinya zona kuning berubah menjadi orange. Mulai dari Kota dan Kabupaten Bogor, Kota dan Kabupaten Bandung termasuk Kabupaen Bandung Barat, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Kuningan serta Kabupaten Cirebon.

Depok, Kota dan Kabupaten Bekasi masih berada di Zona Orange atau ketagori penyebaran sedang.



Jabar  hingga pekan keempat Juli 2020 ini masih mempertahankan tanpa zona merah (resiko tinggi), yang sempat disematkan kepada Kota Depok pada evaluasi level kewaspadaan pekan pertama Juli 2020.

Gubernur juga sempat melaporkan angka Reproduksi Efektif (Rt) COVID-19 Jabar dalam dua minggu terakhir (14-26 Juli) berada di bawah angka satu, yakni 0,84. 

“Rata-rata dua minggu terakhir, 0,84. Menandakan masih terkendali,” ucapnya.

Keberhasilan yang dicapai oleh kerja keras Gubernur Jabar beserta seluruh jajarannya hari ini dihantam pukulan berat. Di rumah sendiri, di Gedung Sate, sejumlah pegawainya diindikasi positif terpapar virus corona jenis baru (COVID-19)  berdasarkan hasil swab yang sudah dilakukan awal pekan ini kepada ratusan aparatur sipil negara (ASN).

Seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Jabar pun diinstruksikan untuk bekerja dari rumah (WFH).

Seiring dengan itu, beredar juga pesan di media sosial dan grup-grup wartawan yang menyatakan sekitar 40 puluh ASN di lingkungan Setda Pemprov Jabar yang terkonfirmasi positif COVID-19. 

Sebelumnya pada 27 Juli lalu, Pemprov Jabar menggelar swab test masif di Aula Barat dan Aula Timur Gedung Sate. Pelaksanaan tes cepat tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin Divisi Pelacakan dan Pengujian Massal di Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat.

"Jadi kegiatan ini sudah sesuai dengan agenda dari Divisi Pelacakan dan Pengujian Massal. Dan telah disiapkan 2.000 test kit di Gedung Sate," kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jawa Barat Daud Achmad.

Dia membantah kabar yang menyebutkan bahwa pemeriksaan tersebut dilakukan karena ada aparatur sipil negara yang tertular  COVID-19.

"Kami dari Gugus Tugas tidak pernah mengeluarkan pesan tersebut," jelasnya. 

Patut disayangkan jika memang Gedung Sate jadi klaster baru penularan Covid-19, kemudian menjadi santapan media nasional. Kerap tayang di televisi Emil menngumbar keberhasilannya mengendalikan Covid-19.

Lalu kemudian yang terjadi masyarakat akan berbalik luntur kebanggaan dan kepercayaan terhadap Emil. Rumah orang sibuk dibereskan, namun rumah sendiri terabaikan. 

Kalau sudah begitu mungkin ada beberapa komentar sinis: "uji klinis vaksin Covid-19 buatan China sebaiknya dilakukan di Gedung Sate saja." ***

pam / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya