backgroud
logo

Bisnis

 

Negara Negara Maju Jatuh ke Jurang Resesi, Bagaimana Nasib Indonesia?

Negara Negara Maju Jatuh ke Jurang Resesi, Bagaimana Nasib Indonesia?

 
Negara Negara Maju Jatuh ke Jurang Resesi, Bagaimana Nasib Indonesia?
Negara Negara Maju Jatuh ke Jurang Resesi, Bagaimana Nasib Indonesia?. (istock)
WJtoday
Jumat, 31 Juli 2020 | 14:50 WIB

Wjtoday,-   Pandemi virus corona (COVID-19) berdampak buruk pada ekonomi global. Pasalnya, banyak negara maju yang terkena resesi setelah pertumbuhan ekonomi mereka minus pada dua kuartal berturut-turut.

Hingga saat ini, setidaknya ada sedikitnya delapan negara yang sudah mengumumkan pertumbuhan ekonomi mereka minus, bahkan terhitung sejak akhir 2019. Negara-negara tersebut bahkan digolongkan oleh Bank Dunia ke dalam high income countries alias negara-negara maju dalam hal pendapatan per kapita.

Negara maju pertama yang tengah mengahadapi jurang resesi adalah Singapura. Pada kuartal II 2020, perekonomian Negeri Singa tersebut telah terpuruk hingga minus 41,2 persen (qtq). Sementara secara tahunan, PDB anjlok 12,6 persen. Sedangkan kuartal I 2020, minus 3,3 persen (qtq).

Berikutnya Hong Kong resmi resesi selama setahun penuh. Ekonominya sulit pulih di tengah pandemi Corona.
Ekonomi Hongkong mengkerut 9% di kuartal II-2020 (April-Juni) dibandingkan posisi setahun sebelumnya.

Ini merupakan keempat kalinya Hong Kong mencatat ekonomi minus. Artinya, sudah setahun penuh ekonomi Hong Kong tidak tumbuh.

Kemudian ada Korea Selatan yang baru-baru ini menyatakan jika negaranya resmi mengalami resesi. Dimana pertumbuhan ekonomi pada pada kuartal II 2020 sebesar minus 3,3 persen (qtq). Angka itu turun lebih dalam dari kuartal yang minus 1,3 persen. Ini merupakan resesi ekonomi pertama kalinya bagi Korea Selatan dalam 37 tahun setelah 1963.

Kemudian ada Jepang yang mengalami resesi lagi setelah lima tahun. Pada kuartal I 2020 perekonomian Negeri Sakura tersebut telah minus 0,9 persen. Sementara pada kuartal sebelumnya yakni ke IV di 2019, ekonominya minus 1,9 persen.

Jerman juga mengalami resesi dengan perekonomian yang mengalami kemerosotan hingga minus 2,2 persen pada kuartal I 2020. Angka ini bahkan lebih para dibandingkan kuartal IV 2019 yang minus 0,1 persen.

Mengutip Reuters, penurunan ekonomi Jerman hingga -10,1% diakibatkan penurunan konsumsi rumah tangga, investasi bisnis dan ekspor. Semua itu merupakan dampak dari pandemi COVID-19.

Disusul Prancis yang pertumbuhan ekonominya menginjak angka minus 5,8 persen pada kuartal I 2020. Ini merupakan yang terburuk sejak sejak 1949. Pada kuartal IV 2019, ekonomi Jerman sudah minus meski tak sedalam di awal 2020, yakni minus 0,1 persen.

 Ada Italia yang juga sudah memasuki resesi sejak kuartal I 2020. Pertumbuhan ekonomi dilaporkan minus 4,7 persen, lebih buruk dari kuartal IV 2019 yang minus 0,3 persen. Ini merupakan ekonomi terburuk sejak 1995.

Terakhir Amerika Serikat (AS) telah juga masuk jurang resesi. Ekonomi Amerika Serikat (AS) mengalami kontraksi atau minus 32,9 persen secara tahunan pada kuartal II 2020. Ini merupakan penurunan terburuk sepanjang sejarah.

Mengutip CNN Business, Jumat (31/7/2020), AS terjerumus dalam jurang resesi untuk pertama kalinya dalam 11 tahun. Bisnis yang berhenti akibat kebijakan lockdown untuk menghambat penyebaran virus Corona memusnahkan pertumbuhan ekonomi yang telah dicetak selama bertahun-tahun.

Lantas bagaimana nasib Indonesia? Apakah akan ikut jatuh ke jurang resesi seperti negara-negara tersebut?

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengakui tantangan ekonomi akibat pandemi virus corona, lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan RI  mampu lolos dari jerat resesi dengan mencetak pertumbuhan ekonomi positif pada 2020.

Sebelumnya, resesi adalah keadaan di mana kontraksi ekonomi suatu negara berlangsung selama dua kuartal atau lebih. Singapura dan Korea Selatan adalah dua negara yang lebih dahulu mengumumkan resesi karena corona setelah laju ekonomi kuartal I dan II negatif.

Ia optimis pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 dapat bangkit (rebound) positif sebesar 0,4 persen dan diikuti pertumbuhan sebesar 2 persen hingga 3 persen pada kuartal IV 2020. Sehingga, rata-rata pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 masih di atas nol persen.

"Kondisi ekonomi kita keseluruhan setahun (2020) masih berada di zona positif," katanya yang dikutip pada  video conference, jumat (31/7).

Sementara, untuk kuartal II lalu, ia memperkirakan ekonomi akan terkontraksi sebesar 4,3 persen. Diketahui, pertumbuhan pada kuartal I 2020 tercatat sebesar 2,97 persen.

Namun, proyeksi optimistis tersebut dibuatnya dengan catatan penanganan covid-19 dalam negeri telah terkendali pada paruh kedua 2020.

Dengan tingginya ketidakpastian global, tak menutup kemungkinan proyeksinya tersebut akan mengalami revisi mengikuti perkembangan penanganan pandemi covid-19.

"Yang mempengaruhi perekonomian kita sendiri sangat tergantung pada penanganan covid semester kedua, kuartal III dan IV. Kalau penanganannya efektif dan berjalan seiring dengan pembukaan aktivitas ekonomi, maka kondisi ekonomi bisa recover (pulih)," Pungkas Ani.***

WJT / goy

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Lainnya