backgroud
logo

Opini

 

Waspada Covid-19, Belajar dari Sejarah Pandemi Flu Spanyol 1918

Waspada Covid-19, Belajar dari Sejarah Pandemi Flu Spanyol 1918

 
Waspada Covid-19, Belajar dari Sejarah Pandemi Flu Spanyol 1918
Waspada Pandemi Covid-19, Belajar dari Sejarah Pandemi Flu Spanyol 1918. (Wikipedia)
WJtoday
Jumat, 31 Juli 2020 | 15:05 WIB
WJtoday, Bandung - Tepat pada tahun 1918, dunia diguncang wabah flu mematikan yang dikenal dengan flu Spanyol. Para peneliti dan sejarawan meyakini wabah flu Spanyol menewaskan 20 sampai 100 juta orang dalam dua tahun, yakni antara tahun 1918 dan 1920. 

Bahkan disebutkan dalam riset jurnalis BBC World Service Fernando Duarte, flu Spanyol menewaskan lebih banyak orang daripada korban Perang Dunia I. 

Kini setelah lebih dari 100 tahun kemudian, seluruh dunia kembali dihantam pandemi yang tak kalah dahsyatnya, yakni serangan virus SARS-CoV-2. Hampir seluruh negara juga kesulitan untuk keluar dari dampak yang ditimbulkan serta korban yang terus berjatuhan. Namun, banyak hal yang dapat kita pelajari dari pandemi flu Spanyol. 

Menurut Syefri Luwis, peneliti sejarah wabah dari Universitas Indonesia, Pulau Jawa merupakan salah satu episentrum wabah ini. Hal tersebut dikarenakan jumlah penduduk yang sangat padat pada saat itu, dan juga karena adanya pertentangan dimana para pengusaha tetap memaksa untuk perjalanan kapal laut. 

Dirinya juga menyebut penyebab penyakit flu Spanyol ini dapat menyebar dengan sangat cepat di Hindia Belanda dikarenakan tidak adanya larangan masyarakat untuk berkumpul oleh pemerintah Hindia Belanda, meski telah diperingatkan oleh dinas kesehatan.

"Tetapi ternyata, direktur kehakiman bilang jangan sampai orang dilarang untuk berkumpul karena itu akan membuat keresahan. Itulah yang membuat ternyata penyakit bisa menyebar dengan sangat cepat," jelas Syefri dalam dialog Satuan Tugas di Graha BNPB Jakarta, Kamis, (30/7/2020).

Salah satu pembelajaran sejarah yang sangat baik dapat diambil dari langkah sosialisasi pemerintah kolonial Belanda pada saat itu. Syefri menjelaskan, meski dianggap terlambat langkah pemerintah Hindia Belanda menerbitkan dua buku mengenai wabah flu perlu diapresiasi. 

Dengan pendekatan lokal dan budaya, salah satunya dengan diterbitkannya buku dalam bahasa Jawa Honocoroko dan menggunakan tokoh-tokoh pewayangan, hal tersebut memudahkan informasi sampai ke masyarakat. 

"Mereka menuliskannya dengan bahasa sangat lokal, bahasa Jawa Honocoroko, dan itu dengan di dalamnya dengan tokoh-tokoh wayang jadi itu mengena ke hati masyarakat," tutur Syefri.

Dalam dialog yang dipandu Prita Laura tersebut juga hadir melalui media daring Ravando Lie, kandidat Doktor Sejarah University of Melbourne. Ravando menerangkan teori awal mula merebaknya flu Spanyol yang bermula dari Kansas, Amerika Serikat hingga menyebar melalui mobilisasi tentara dan penduduk ke seluruh penjuru dunia termasuk ke wilayah nusantara. Ia pun menyebut angka korban flu Spanyol di nusantara hingga 1,5 - 4,37 juta jiwa hanya di Pulau Jawa dan Sumatera saja.

Menurut Ravando strategi dengan melakukan penelitian ilmiah mengenai flu Spanyol yang dilakukan oleh Influenza Komisi bentukan pemerintah Hindia Belanda menjadi salah satu terobosan penting. 


Di mana mereka menyebarkan kuesioner ke berbagai dokter yang tersebar di Hindia-Belanda untuk mengetahui dan mempelajari penanganan flu Spanyol dari berbagai daerah. 

Dari sinilah awal pemerintah kolonial merumuskan berbagai kebijakan penanggulangan pandemi yang kemudian berujung pada dibentuknya Influenza Odonasi pada tahun 1920. 

Influenza Odonasi merupakan kebijakan pemerintah kolonial yang dinilai paling signifikan, dengan mengatur hukuman terhadap yang melanggar, peraturan turun-naik penumpang dan juga angkut barang misalnya di pelabuhan. Dari pelabuhan inilah diduga kuat sebagai sarana utama penyebaran virus flu Spanyol. Namun langkah tersebutpun dianggapnya cukup terlambat.

"Tetapi itu cukup terlambat karena pada tahun 1920 ketika virus itu sudah mulai tertidur atau mungkin mulai menghilang pada saat itu," jelas Ravando.

Melihat sejarah yang begitu panjang, Ravando mengatakan pandemi yang terjadi di Indoensia pada dasarnya kerap berulang polanya. Namun pemerintah perlu membuat grand design secara jangka panjang, serta penting melihat sisi sejarah dan kesehatan sebagai unsur yang tidak terpisahkan.

Sementara Syefri memberi masukan terkait sosialisasi kepada pemerintah Indonesia agar ke depannya dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat dengan lebih detail dan memperhatikan seluruh aspek masyarakat. Salah satu contohnya dengan sosialisasi menggunakan bahasa daerah.

"Dengan menggunakan bahasa daerah akan semakin mendekatkan masyarakat dengan bahaya ini, jadi mereka lebih sadar," jelasnya mengakhiri. 


Pandemi Paling Mematikan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengategorikan Virus Corona COVID-19 sebagai pandemi. Namun, Virus Corona bukan lah pandemi yang paling mematikan di dunia.

Adalah flu Spanyol, pandemi pada 1918 yang dianggap paling mematikan dalam sejarah dunia. Jenis influenza ini menyebar dengan cepat dan membunuh tanpa pandang bulu.

Orang-orang muda, tua, sakit, dan sehat semuanya terinfeksi, dan sekitar 10% dari total pasien, meninggal dunia.

Perkiraan bervariasi pada jumlah pasti kematian yang disebabkan penyakit ini, tetapi diperkirakan telah menginfeksi sepertiga populasi dunia dan menewaskan sedikitnya 50 juta orang, menjadikannya pandemi paling mematikan dalam sejarah modern. Meskipun pada saat itu mendapat julukan "flu Spanyol," tidak mungkin virus itu berasal dari Spanyol.

Dilansir Live Science, Jumat (13/3/2020), wabah dimulai pada 1918, selama bulan-bulan terakhir Perang Dunia I, dan sejarawan sekarang percaya bahwa konflik tersebut mungkin sebagian bertanggung jawab untuk menyebarkan virus. Di Front Barat, tentara yang hidup dalam kondisi sempit, kotor, dan lembab menjadi sakit.

Ini adalah akibat langsung dari melemahnya sistem kekebalan tubuh dari kekurangan gizi. Penyakit mereka, yang dikenal sebagai "la grippe," menular, dan menyebar di antara barisan. Dalam waktu sekitar tiga hari menjadi sakit, banyak prajurit akan mulai merasa lebih baik, tetapi tidak semua berhasil sembuh.

Selama musim panas 1918, ketika pasukan mulai pulang dengan cuti, mereka membawa serta virus yang tidak terdeteksi yang membuat mereka sakit. Virus itu menyebar ke seluruh kota dan desa di negara asal para prajurit. Banyak dari mereka yang terinfeksi, baik prajurit maupun warga sipil, tidak pulih dengan cepat. Virus ini paling sulit menyerang dewasa muda antara usia 20 dan 30 tahun yang sebelumnya sehat. ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya