backgroud
logo

Hukum dan Kriminal

 

Kimia Farma Bawa Kasus Pelecehan dan Pemerasan oleh Dokter Rapid Test ke Ranah Hukum

Kimia Farma Bawa Kasus Pelecehan dan Pemerasan oleh Dokter Rapid Test ke Ranah Hukum

 
Kimia Farma Bawa Kasus Pelecehan dan Pemerasan oleh Dokter Rapid Test ke Ranah Hukum
Kasus Pelecehan dan Pemerasan oleh Dokter Rapid Test Dibawa ke Ranah Hukum.
WJtoday
Minggu, 20 September 2020 | 08:00 WIB

Wjtoday, Jakarta -   Kasus pemerasan dan  pelecehan seksual yang diduga dilakukan dokter rapid test, EFY di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten akan dibawa ke ranah hukum. PT Kimia Farma Diagnostika selaku penyelenggara rapid test menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas permasalahan tersebut.

"PT Kimia Farma Diagnostika akan membawa peristiwa ini ke ranah hukum atas tindakan oknum tersebut," kata Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadilah Bulqini melalui keterangan tertulisnya, Sabtu, 19 September 2020.

PT Kimia Farma Diagnostika bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II menyediakan layanan rapid test di Bandara Soekarno-Hatta. Aidil menduga oknum dokter tersebut  telah memalsukan dokumen hasil rapid test, memeras, melecehkan, dan mengintimidasi seorang wanita, LHI, 23.

"Kami telah menghubungi korban dan akan melakukan investigasi di internal perusahaan," ujar Aidil.

Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta Agus Haryadi mengatakan PT Angkasa Pura II siap mendukung upaya PT Kimia Farma yang membawa kasus itu ke ranah hukum. "Kami akan memberikan akses pengecekan rekaman kamera pemantau atau CCTV dan lainnya," ungkap Agus.
 
LHI mengaku menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan dokter rapid test EFY di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Peristiwa itu disampaikan  melalui akun Twitter  pribadinya @listongs.

Dia juga mengaku menjadi korban pemerasan. Awalnya, EFY menawarkan kepada LHI untuk mengubah hasil rapid test miliknya agar tetap bisa tetap terbang ke Nias, Sumatra Utara. LHI  pun menerima tawaran itu.

Setelah hasil tersebut keluar, LHI meninggalkan lokasi rapid test untuk menuju gerbang keberangkatan pesawat. Saat berjalan menuju gerbang keberangkatan, LHI mengaku terus diikuti oleh oknum dokter itu.

Dokter tersebut ternyata mengikuti untuk meminta imbalan atas perubahan hasil rapid test. LHI kemudian memberikan Rp1,4 juta melalui transfer. Selain itu dia juga mengaku menerima pelecehan seksual lainnya, payudaranya diraba oleh dokter tersebut.

Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta Agus Haryadi mengungkap, PT Angkasa Pura II sangat menyesalkan adanya informasi ini. Agus menuturkan, dukungan diberikan kepada seluruh pihak, termasuk keperluan untuk pengecekan CCTV dan lainnya.

PT Angkasa Pura II siap bekerja sama dengan seluruh pihak, termasuk sudah berkoordinasi dengan Polres Bandara Soekarno-Hatta yang saat ini tengah melakukan penyelidikan.

"PT Angkasa Pura II sangat berharap hal ini tidak berulang kembali. Bersama-sama, PT Angkasa Pura II dan  stakeholder harus menjaga reputasi Bandara Soekarno-Hatta," jelas Agus.***

WJT / nun

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya