backgroud
logo

Inspirasi

 

Pada 27 September 1945 Silam, Angkatan Pemuda Berhasil Diduduki Kantor Pos Bandung

Pada 27 September 1945 Silam, Angkatan Pemuda Berhasil Diduduki Kantor Pos Bandung

 
Pada 27 September 1945 Silam, Angkatan Pemuda Berhasil Diduduki Kantor Pos Bandung
Kantor Pos Pusat di Bandung. (Wikipedia)
WJtoday
Minggu, 27 September 2020 | 10:06 WIB
WJtoday.com - Putra-putri Indonesia yang tergabung dalam Angkatan Muda Pos Telegraf dan Telepon (AMPTT) berhasil merebut Kantor Pusat Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) dari militer Jepang di Bandung pada 27 September 1945.

Gerakan tersebut merupakan bagian dari perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamirkan pada 17 Agustus tahun yang sama.

Ketika itu Angkatan Muda siap dengan senjatanya masing-masing.

Tokoh pemuda saat itu, Soewarno, dengan pasukannya memasuki ruangan kantor pusat PTT.


Kantor Pos Indonesia di Jalan Asia Afrika, Bandung. 

Ada militer Jepang, tetapi mereka tidak berkutik melawan tekad bulat AMPTT.

Secara suka rela mereka pun menyerahkan pedangnya.

Di depan massa pada pukul 11 siang, Soetoko membacakan dengan lantang surat pernyataan atas nama seluruh pegawai PTT Indonesia.

Surat itu berisikan pengangkatan Soeharto sebagai Kepala Jawatan PTT Republik Indonesia dan R. Dijar menjadi wakilnya.

Barisan pemuda pimpinan Soewondo kemudian muncul di beranda Kantot PTT.

Mereka menurunkan bendera Jepang dan menggantikannya dengan bendera merah putih yang diiringi lagu Indonesia Raya.


Tugu Peringatan Pahlawan PTT 

Sebuah tugu Peringatan Pahlawan PTT 1945 – 1949 kemudian dididirikan persis di tempat di mana bendera merah putih dikibarkan di kantor pos tersebut.

Pada bagian bawah tugu tertulis puisi sastrawan besar Chairil Anwar yang berbunyi:

Kami tjuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunjaanmu
Kaulah lagi jang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah djiwa kami melajang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kaulah sekarang jang berkata
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kami bitjara padamu dalam hening dimalam sepi
Djika dada rasa hampa dan djam dinding jang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah djiwa kami

Di atas puisi dalam prasasti tersebut turut terukir nama-nama para pahlawan AMPTT, antara lain; Goenawan, Imang, Maskat, Mohammad Rapik, Paimin, Sangadan, Satmoko, Soemardjono, Soepa’at, Soepojo, Soeprapto, Soetojo, dll.

Peristiwa bersejarah tersebut lantas ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai Hari Bhakti Postel.***

WJT / agn

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya