backgroud
logo

Gaya Hidup

 

Benarkah Penggunaan Masker saat Berolahraga itu Berbahaya?

Benarkah Penggunaan Masker saat Berolahraga itu Berbahaya?

 
Benarkah Penggunaan Masker saat Berolahraga itu Berbahaya?
ilustrasi berolahraga memeprgunakan masker saat pandemi Covid-19. (variety.com)
WJtoday
Senin, 5 Oktober 2020 | 10:11 WIB
WJtoday, Bandung - Penggunaan masker saat pandemi Covid-19 memang dianjurkan untuk mencegah terjadinya penularan dan penyebaran virus mematikan tersebut.

Namun bagaimana bila berolahraga di luar rumah, apakah masker juga harus digunakan?

Berikut adalah penjelasan dari penelitian dan pustaka yang diakukan praktisi kesehatan Dyana Sarvasti, MD, PhD.

Penelitian yang dilakukan di Catalunya, pada 8 orang secara acak, melakukan push-up 21 x, menggunakan masker, dengan intensitas 6-8 Mets, menunjukkan di tubuhnya terjadi penurunan O2 sebesar 3,7% dan peningkatan CO2 sebesar 20%.

Kemudian penelitian yang dilakukan di Jerman, pada 12 laki-laki dewasa sehat, melakukan olahraga sepeda, menggunakan masker N95 atau masker bedah, menunjukkan penurunan ventilasi, penurunan kapasitas jantung dan paru, dan timbul ketidaknyaman, utamanya pada subjek yang menggunakan masker N95.

Dyana berkesimpulan, olahraga menggunakan masker dapat menimbulkan gangguan irama jantung (aritmia), hingga menimbulkan kematian mendadak, karena:

1.  Kekurangan oksigen (hipoksia) dapat meningkatkan stimulasi hormon adrenergik, menyebabkan pemanjangan durasi potensial aksi, menginduksi early afterdepolarization (EAD), sehingga dapat mencetuskan aktivitas listrik jantung

- Hipoksia dapat menimbulkan fokus ektopik melalui micro-reentry
- Hipoksia dapat meningkatkan stres oksidatif, sehingga timbul aritmia melalui mekanisme non-reentrant dan reentrant.

2. Saat iskemia miokard, akan terjadi akumulasi siklik AMP, sehingga terjadi delayed afterdepolarization (DAP)

Dia mengungkapkan, olahraga dengan memakai masker dapat menyebabkan beberapa risiko, antara lain:

1. Terjadinya "rebreathing" udara ekspirasi, yang dapat meningkatkan CO2 dan meningkatkan keasaman dalam tubuh.

- Keasaman tubuh yang meningkat akan menurunkan pergerakan sel natural killer menuju target, sehingga meningkatkan kesempatan untuk timbulnya infeksi


- Perubahan kelembaban dan temperatur di saluran napas atas menyebabkan silia saluran napas bergerak tidak sempurna, dan menjadi predisposisi terjadinya infeksi di saluran pernapasan bawah.

2.  Hipoksia dan hiperkapnea, sehingga terjadi kenaikan laju jantung dan tekanan darah, meningkatkan tekanan aorta, meningkatkan tekanan ventrikel, meningkatkan kerja jantung, yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan oksigen arteri koronaria.

- Hipoksia dan hiperkapnea, akan menurunkan aliran darah ke ginjal, GFR menurun, fungsi ginjal menurun

- Hipoksia, dapat meningkatkan tekanan di dalam otak, menurunkan aliran darah ke otak, mencetuskan kekurangan oksigen (iskemia) di otak.

Dyana pun menyebutkan olah raga mengunakan masker itu mirip dengan kondisi pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik, yang merasakan sesak, lelah, pusing, dan tidak nyaman karena kekurangan oksigen.

Pada kondisi pandemi Covid-19 seperti yang berlangsung saat ini, dia pun menyarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. Olahraga di dalam rumah saja tanpa masker

2. Bila menggunakan masker, disarankan olahraga berintensitas ringan atau sedang saja.

3. Bila sedang tidak fit, tidak boleh berolahraga

4. Bila ada penyakit paru, atau penyakit kardiovaskular, sebaiknya tidak menggunakan masker saat berolahraga.

5. Bila berolahraga terpaksa menggunakan masker, disarankan agar masker dilepas bila situasi lingkungan tidak sedang banyak orang (sepi).  ***

WJT / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya