backgroud
logo

Fokus

 

Terungkap ! Indonesia Belum Mampu Secara Akurat Deteksi Virus Corona

Terungkap ! Indonesia Belum Mampu Secara Akurat Deteksi Virus Corona

 
Terungkap ! Indonesia Belum Mampu Secara Akurat Deteksi Virus Corona
Ruang Isolasi RSHS Bandung. (WJToday/Yuga M Hasanni)
yoga enggar
Minggu, 2 Februari 2020 | 10:05 WIB
WJToday,Jakarta - Para ahli medis telah menyuarakan kekhawatiran tentang kemampuan Indonesia untuk mendeteksi virus corona, yang berpotensi meninggalkan sejumlah kasus tidak terdiagnosis.

Singapura, Malaysia, dan Australia telah mendeteksi kasus, sementara Indonesia belum mengkonfirmasi satu pun.

The Sydney Morning Herald dan The Age dalam laporannya mengungkapkan, salah satu ahli biologi molekuler terkemuka di Indonesia menyebutkan, Indonesia belum memiliki peralatan pengujian yang diperlukan untuk dengan cepat dapat mendeteksi Virus Corona.

Ahli tersebut mempredikasi virus corona mungkin sudah ada di Indonesia meskipun pemerintah mengklaim belum ada yang terinfeksi.

Reagen spesifik (bahan kimia yang digunakan dalam peralatan pengujian untuk membantu menganalisis dan mengidentifikasi virus corona) belum tersedia di negara ini. Reagen yang diperlukan ini baru akan tiba di Indonesia dalam beberapa hari ke depan.

Sementara itu, laboratorium negara hanya mampu mendeteksi keberadaan keluarga virus corona pada orang yang berpotensi terinfeksi.

Kelompok virus ini juga termasuk flu biasa, dan MERS serta virus SARS yang sekarang sudah punah. Negara ini belum secara positif mengkonfirmasi satu kasus virus corona baru, menurut laporan The Sydney Morning Herald.

Untuk mengidentifikasi infeksi virus dari China tersebut (yang juga dikenal sebagai 2019-nCov) otoritas medis di Indonesia harus mendeteksi keluarga virus corona pada seseorang dan kemudian secara genetis mengurutkan hasilnya—suatu proses yang dapat memakan waktu lima atau enam hari.

Profesor Amin Soebandrio, Ketua Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman di Jakarta (yang terlibat dalam pekerjaan pengujian dan pengurutan gen) mengkonfirmasi kepada The Sydney Morning Herald dan The Age bahwa reagen tersebut (yang dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mendeteksi virus corona dalam beberapa jam) dijadwalkan tiba di Indonesia secepatnya.

“Kami sedang dalam proses mendapatkan peralatan deteksi khusus untuk virus corona novel 2019. Kami berharap bahwa dalam beberapa hari mendatang, kami akan menerima peralatan spesifik sehingga kami tidak perlu melakukan pengurutan gen,” ujarnya kepada The Sydney Morning Herald.

“Kami tidak perlu melakukan dua langkah (untuk mengkonfirmasi infeksi).”

Profesor Amin mengatakan, lembaga itu terlibat dalam pekerjaan pengujian dan pengurutan gen yang sedang dilakukan. Dia mengakui ada kemungkinan bahwa virus tersebut hadir tetapi tidak terdeteksi di Indonesia, mencatat bahwa negara tetangga yang dekat, termasuk Singapura, Malaysia, dan Australia, telah mendeteksi kasus tersebut.

“Jika Anda bertanya apakah itu mungkin, tentu saja ada kemungkinan tetapi kami belum memiliki bukti. Saat ini, kami tidak tahu apakah virus tersebut telah masuk ke Indonesia atau belum.”


Virus ini pertama kali muncul di Wuhan, China, dan telah menyebar ke 19 negara lain. Negara tetangga Australia di Asia Tenggara, Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Filipina, semuanya melaporkan kasus. Indonesia belum melaporkan kasus yang terkonfirmasi.


Negara-negara lain di Asia Tenggara semuanya memiliki populasi yang jauh lebih kecil daripada 264 juta penduduk di Indonesia.

China juga merupakan salah satu dari lima sumber wisatawan teratas yang menuju Indonesia, di mana sekitar 2 juta warga negara China berkunjung pada 2018, The Sydney Morning Herald melaporkan. Australia juga termasuk dalam lima besar wisatawan, dengan lebih dari satu juta warga Australia mengunjungi Bali setiap tahun.

Profesor virologi Universitas Queensland, Ian Mackay mengatakan, kedatangan reagen spesifik yang diperlukan untuk menguji jenis virus corona baru akan menjadi “kabar baik bagi Indonesia” (dan kawasan Asia Tenggara) dalam perang melawan virus tersebut.

“Apa yang kami coba lakukan saat ini secara internasional adalah mengunci virus ini dan menghentikan penyebarannya. Jika Anda tidak dapat mengidentifikasinya (virus corona) pada seorang pelancong, itu adalah masalah. Memeriksa suhu seseorang hanya berfungsi jika mereka memiliki suhu (tinggi),” ujarnya kepada The Sydney Morning Herald.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan virus corona sebagai darurat kesehatan global pada Jumat (31/1).

Lebih dari 12.000 kasus virus ini telah dikonfirmasi di seluruh dunia, di mana sebagian besar di China.

Di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan milik Kemenkes adalah satu-satunya pihak yang dapat memastikan keberadaan jenis baru virus itu.

Kemenkes sebelumnya telah memastikan bahwa ada 100 rumah sakit rujukan yang mampu menangani pasien jika memang ada yang terkonfirmasi terjangkiti virus yang pertama kali terdeteksi bulan lalu di Wuhan itu.

Seiring dengan terus meningkatnya jumlah korban yang meninggal dunia di China akibat virus corona, pemerintah Indonesia juga meningkatkan upaya pencegahan, termasuk memastikan berjalannya proses pendeteksian virus yang memadai.

Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Kemenkes, mengatakan bahwa sejauh ini bahwa sudah ada 13 orang yang tengah di observasi.

"Yang 11 sudah ada hasilnya, semuanya negatif. Dua sedang dilakukan pemeriksaan," ujar Anung dalam acara konferensi pers pada Senin (27/01).

Sebelumnya, terdapat sejumlah kasus dicurigai terinfeksi corona virus, diantaranya termasuk di Jakarta, serta di beberapa wilayah lainnya seperti Sorong di Papua Barat, Manado di Sulawesi Utara, hingga Jambi dan Bali.

Menganggapi hal ini, Dirjen Anung menegaskan bahwa belum ada pasien yang terkonfirmasi terinfeksi virus corona baru dari Wuhan. Ia juga mengatakan, para petugas kesehatan dipastikan mengikuti standar operasional kerja sesuai mekanisme pemeriksaan laboratorium WHO.

Anung menegaskan bahwa pengujian saat ini merupakan proses dua tahap yang melibatkan tes untuk keluarga virus corona dan kemudian sekuensing genetik. Dia membandingkan proses panjang dengan sidik jari yang cocok, tetapi tidak menanggapi permintaan informasi lebih lanjut tentang tidak adanya reagen spesifik.

Ada 243 warga negara Indonesia di zona karantina di China, dan Presiden Joko Widodo telah memerintahkan mereka untuk dievakuasi segera.***

oga / Wan

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya