backgroud
logo

Fokus

 

Wabah Virus Corona Dorong Konspirasi Anti-China di Indonesia

Wabah Virus Corona Dorong Konspirasi Anti-China di Indonesia

 
Wabah Virus Corona Dorong Konspirasi Anti-China di Indonesia
Warga Wuhan Merayakan Imlek di tengah wabah corona.
WJtoday
Senin, 3 Februari 2020 | 12:22 WIB
WJToday,Jakarta - Wabah Virus Corona telah mendorong konspirasi anti-China di Indonesia. Berbagai hoaks menyebar dengan liar, yang mengobarkan sentimen dan ketakutan terhadap China dan penduduk Tionghoa, di negara yang sudah rentan terhadap berita palsu ini.

“Buang ponsel Xiaomi Anda!” bunyi tulisan di gambar WhatsApp yang viral. 

“Virus corona berasal dari China dan menyebar melalui server, keluar dari speaker Xiaomi!”
“Nyawa Anda lebih penting,” pesan di bawahnya menjelaskan. 
“Disarankan Anda membuang ponsel Xiaomi Anda.”

Teori konspirasi adalah bagian tak terpisahkan dari banyak peristiwa global di era media sosial. Bencana alam, wabah penyakit, dan serangan bunuh diri semuanya rentan terhadap berita palsu. Kebanyakan hoaks pada umumnya tidak berbahaya, hanya berpotensi menimbulkan panik, dan mudah dibantah.

Namun di Indonesia, konspirasi terkait virus corona Wuhan telah berubah jahat dan rasis, tulis Kate Walton di Foreign Policy.

Walau banyak yang hanya rumor tentang pasien yang dirawat di rumah sakit (“hati-hati dengan rumah sakit XY di kota ZZ”) atau teori perlindungan diri tentang makan bawang putih dan minum banyak air putih (ide yang juga dibagikan oleh warga China), terdapat sejumlah teori mengenai warga negara China dan orang Indonesia Tionghoa.

Warga Jakarta Drevina Andarini mengatakan, ibunya memperingatkannya untuk menghindari tempat-tempat umum yang sibuk, tidak makan atau menggunakan produk-produk China, dan tidak menyentuh atau mendekati “orang Tionghoa”.

“Saya tidak tahu dari mana teori-teori ini berasal,” ujar Drevina kepada Foreign Policy. “Ibu saya bilang dia membacanya di beberapa situs web dan bahwa penulis mengatakan mereka adalah seorang dokter.”

Ada sejarah panjang prasangka terhadap orang Tionghoa di Indonesia. Etnis Tionghoa hanya mencakup 1,2 persen dari populasi Indonesia, tetapi keberhasilan mereka dalam hubungan bisnis dan historis dengan komunisme membuat mereka rentan.

Kebanyakan orang Indonesia Tionghoa adalah Kristen, Buddha, atau Konghucu; kurang dari 5 persen adalah Muslim. Pada 1965-1966, ratusan ribu orang yang dicurigai komunis (banyak dari mereka keturunan Tionghoa) terbunuh di seluruh Indonesia setelah militer menuduh ada upaya kudeta.

Pada 1998, setelah jatuhnya diktator Suharto, kekerasan kerusuhan besar-besaran diarahkan pada etnis Tionghoa, yang dituduh mengambil untung dari rezim Suharto—yang mengakibatkan lebih dari 1.000 kematian dan hampir 100 pemerkosaan.

Orang-orang yang lebih tua tampaknya sangat rentan terhadap hoaks. Sebagian besar pesan WhatsApp yang dilihat Foreign Policy, telah diteruskan oleh orang tua atau anggota keluarga besar. Namun kaum muda Muslim yang melakukan hijrah, juga tampak rentan, lanjut Kate Walton.

“Saya mencoba menjelaskan (hoaks) kepada mereka, tetapi itu sangat sulit,” ujar Yona yang berusia 28 tahun, yang bekerja di sebuah LSM internasional besar di Jakarta, kepada Foreign Policy.

“Jika hoaks itu menggunakan istilah seperti ‘azab’ dan ‘hukuman dari Allah’, maka tidak ada yang cukup berani untuk mempertanyakannya.”

Sayangnya, reaksi ini bukanlah hal baru.

“Mereka hanya mengatakan, ‘Mungkin pemahaman kita tentang agama berbeda,'” tambahnya, sebelum mengatakan bahwa ibunya juga mengirim berita tentang virus corona Wuhan. “Setidaknya ibu saya terkadang mau mendengarkan saya.”

Para pejabat kesehatan Indonesia berdiri di sebelah spanduk yang menunjukkan informasi tentang virus corona Wuhan (Foto: AFP/Juni Kriswanto via Getty Images)



Di media sosial, unggahan Twitter, Facebook, dan Instagram mendorong orang untuk menjauh dari tempat-tempat di mana warga negara Tionghoa bekerja dan tinggal.

“Setelah Tahun Baru Imlek, para pekerja dari China kembali ke Indonesia,” demikian bunyi sebuah tweet. “Waspadalah terhadap virus corona di gedung BRI 2 dan Generali!”

BRI 2 adalah gedung kantor di Jakarta di mana perusahaan telekomunikasi China Huawei berada. Tweet itu menge-tag Direktorat Jenderal Imigrasi dan Kementerian Kesehatan.

Outlet media besar juga terlibat dalam menyebarkan konspirasi anti-China. Sesi talk show pagi berjudul “Senjata biologis di balik virus corona?” ditayangkan di Kompas TV pada 29 Januari, mengambil teori konspirasi Barat; pembawa acaranya terus-menerus mendorong panelis untuk setuju dengan mereka bahwa virus itu adalah ciptaan China, tutur Kate Walton.

Konspirasi lain berfokus pada kekhawatiran terhadap Muslim Uighur di China, para korban kampanye penindasan budaya dan agama.

“Jangan tertipu oleh penipuan pemerintah Komunis China!” bunyi sebuah unggahan Facebook. “Penyebaran virus corona di Wuhan adalah senjata mematikan yang diluncurkan oleh rezim Komunis China sebagai bagian dari program nasional mereka untuk membasmi umat Islam.”

“Pemerintah China belajar dari bagaimana perlakuannya terhadap Muslim Uighur mendapat perhatian (negatif) dari dunia Islam,” tulis penulis itu. “Sekarang dengan penyebaran virus corona mematikan ini, ada pembenaran bagi rezim Komunis China untuk mengisolasi penduduk Wuhan dan mengidentifikasi semua Muslim untuk dieksekusi dengan cara yang sama seperti ketika mereka berada di (wilayah) Uighur.”

Penulis itu melanjutkan untuk mempertahankan posisinya di komentar tersebut, mengatakan bahwa mereka yang tidak setuju mungkin adalah “agen China”.

Konspirasi berbahasa Inggris juga tidak membantu. Seorang spesialis pembangunan senior di Jakarta mengatakan kepada Foreign Policy: “Ada kecenderungan di kalangan orang Indonesia untuk berpikir jika sesuatu ditulis dalam bahasa Inggris bahwa itu pasti benar.”

Bahkan banyak orang berpendidikan tidak dapat membedakan antara sumber yang dapat diandalkan dan tidak dapat diandalkan, di mana surat kabar, tabloid, dan situs gosip berbahasa Inggris menjadi sumber informasi yang populer.

Dengan hoaks menyebar liar di media sosial dan grup-grup WhatsApp, Kementerian Kesehatan Indonesia telah meminta masyarakat untuk tetap tenang.

“Virus corona bukanlah musuh kita. Musuh kita saat ini adalah informasi yang membuat masyarakat cemas,” ujar staf Departemen Kesehatan Kuwat Sri Hudoyo kepada media pada Selasa (28/1).

Anehnya, meskipun ada banyak turis China, tidak ada kasus virus corona Wuhan yang telah dikonfirmasi di Indonesia sejauh ini. Setidaknya delapan pasien sedang diperiksa di rumah sakit di seluruh negeri, tetapi 12 pasien lainnya dinyatakan negatif. Indonesia adalah satu-satunya negara di antara 10 tujuan teratas untuk penerbangan internasional dari Wuhan tanpa kasus yang terkonfirmasi.

Namun semua ini tidak akan menghentikan teori konspirasi anti-China, yang telah mengambil intensitas baru dalam beberapa tahun terakhir. Khususnya sejak kasus Ahok.

Pengaruh dan kehadiran China yang semakin besar di pasar Indonesia juga telah memberikan pukulan baru terhadap teori konspirasi, meletakkan landasan bagi kekhawatiran hari ini, ungkap Kate Walton.

Pada 2016, tuduhan cabai impor China yang sengaja terinfeksi bakteri tersebar, sementara setahun kemudian, ada desas-desus terkait masuknya jutaan pekerja China daratan yang merebut lapangan pekerjaan penduduk lokal.

Dalam kerusuhan yang mengikuti pengumuman hasil Pilpres 2019, klaim bahwa polisi China telah menembak perusuh secara sembunyi-sembunyi menjadi liar. Sebuah konferensi media bahkan diadakan untuk membantah teori ini, di mana empat polisi muda pucat diarak di depan kamera dan memperkenalkan diri untuk membuktikan bahwa mereka adalah orang Indonesia.

Jadi walau virus corona Wuhan baru, tapi targetnya sebagian besar tetap sama. Diskriminasi dan rasisme terhadap etnis Tionghoa (baik warga negara Indonesia maupun dari China sendiri) hanya mengambil bentuk baru. Namun seperti hoaks sebelumnya, konspirasi ini juga memiliki potensi untuk berakibat fatal jika kelompok tertentu menindaklanjutinya.

Paranoid tersebut, sejauh ini, menimbulkan ancaman yang lebih besar di Indonesia daripada virus itu sendiri. Tidak sulit untuk membayangkan tuntutan untuk mengisolasi komunitas etnis Tionghoa di kota-kota besar Indonesia, atau serangan terhadap rumah sakit di mana pasien yang diduga menderita virus corona sedang dirawat.

Akun media sosial seperti Turn Back Hoax melakukan yang terbaik untuk memerangi teori-teori ini, tetapi itu akan sangat sulit. Pihak berwenang harus menahan informasi yang salah sebelum terlambat, Kate Walton menyimpulkan.***

WJT / Wan

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya