backgroud
logo

Fokus

 

Pelajaran dari Wabah Virus Corona: Hentikan Kuliner Ekstrem Menyantap Hewan Liar

Pelajaran dari Wabah Virus Corona: Hentikan Kuliner Ekstrem Menyantap Hewan Liar

 
Pelajaran dari Wabah Virus Corona: Hentikan Kuliner Ekstrem Menyantap Hewan Liar
Pelajaran dari Wabah Virus Corona: Hentikan Kuliner Ekstrem Menyantap Hewan Liar. (variety.com)
bambang mulyono
Sabtu, 8 Februari 2020 | 21:11 WIB
WJtoday, Bandung - Jumlah kematian akibat wabah virus corona Tiongkok melonjak menjadi 722 jiwa pada Sabtu (8/2/2020). Jumlah itu melampaui korban wabah SARS di seluruh daratan Negeri Tirai Bambu dan Hong Kong hampir dua dekade lalu.

Saat itu wabah SARS telah menyebabkan 650 orang meninggal dunia.

Sebanyak 86 orang lainnya meninggal akibat virus misterius tersebut di Provinsi Hubei, tempat penyakit itu muncul pada Desember. Demikian laporan komisi kesehatan regional.

Namun, secara global korban SARS, penyakit dalam keluarga yang sama dengan virus corona baru, masih lebih tinggi dengan 770 kematian.

Seorang ilmuwan China baru-baru ini juga mengungkapkan bahwa penularan virus corona salah satunya diduga melalui binatang trenggiling. Binatang ini di negeri Tirai bambu memang menjadi salah satu menu kuliner ekstrem, yang dipercaya mendatangkan manfaat bagi kesehatan dan kekuatan tubuh.

Penyebaran virus corona, ramai disebut berasal dari salah satu pasar hewan liar di Wuhan dan sekarang jadi kondisi darurat kesehatan global berdasarkan deklarasi World Health Organization (WHO), membuat perdagangan hewan liar di Tiongkok jadi sorotan.

Mengutip laman National Geographic, Jumat (31/1/2020), sejak 26 Januari 2020, pemerintah setempat sudah melarang perdagangan hewan liar, setidaknya sampai krisis berakhir. Deretan foto maupun video hewan menderita di pasar dan dimakan hidup-hidup telah menarik perhatian tersendiri, terlebih setelah penyebaran virus corona.

Di tengah arus deras kritik publik dunia, pada realitanya bagi kebanyakan orang Tiongkok, mengonsumsi hewan liar sudah jadi bagian dari kultur. Di Guangzhou, kota dengan jumlah penduduk 14 juta, mengomsumsi hewan liar sudah sangat biasa.

Tidak hanya di China, beberapa negara lain seperti juga Indonesia meiliki kebiasaan kuliner ekstrem ini. Hewan liar yang menjadi menu merupakan hewan yang tak lazim dikonsumsi. Sebut saja kelelawar, tikus hutan, ular, biawak, serta binatang lain yang biasa hidup di hutan.

Tumpukan daging trenggiling di China

Tradisi Menyantap Kuliner Ekstrem
Sejarawan makanan Fadly Rahman mengatakan, kurang tepat jika disebut makanan jenis olahan hewan liar ini dengan istilah kuliner ekstrem. Menurutnya, lebih tepat disebut makanan liar.

Fadly mengatakan, sebelum kedatangan Islam, masyarakat di Nusantara dari lapisan sosial bawah sudah biasa mengonsumsi tikus, anjing, ular, dan berbagai hewan yang hidup di hutan lainnya.Sementara lapisan sosial atas, kata dia, mengonsumsi ikan, ayam, kambing, kerbau, babi hutan, semut, dan anjing.

“Beberapa hewan liar, seperti tokek dan kelelawar, dikonsumsi berbagai kalangan,” ujar staf pengajar jurusan sejarah Universitas Padjadjaran itu, seperti dikutip alinea.id, Minggu (26/1/2020).

Menurut Fadly, berdasarkan kesaksian Ma Huan—seorang pelaut dan penerjemah Tiongkok yang menemani Laksamana Zheng He (Cheng Ho) dalam tiga dari tujuh ekspedisi pada abad ke-15—orang Jawa dari lapisan sosial bawah memasak ular, semut, serangga, dan cacing di atas panggangan api.

Dalam laporan pelaut asal Italia, Marco Polo yang pernah singgah ke Sumatera pada abad ke-13, tutur Fadly, terlihat pula bagaimana masyarakat lapisan bawah di pedalaman Sumatera memenuhi kebutuhan protein dengan mengonsumsi makanan liar.

Pada masa kolonial, baik orang Eropa maupun pribumi, percaya kelelawar mampu mengobati penyakit asma. Para pemburu biasanya mencari kelelawar di dalam gua di pedalaman Jawa dan Sulawesi.

“Sekarang kita masih mempertahankan mitos terkait konsumsi sirip hiu dan ular kobra untuk vitalitas seksual. Itu mitos-mitos kesehatan yang sejak lama beredar,” ujarnya, seraya menambahkan  dalam konteks makanan liar, sangat beririsan dengan kepercayaan masyarakat terkait kesehatan.

Praktik mengomsumsi hewan liar pun akhirnya menyebabkan pupolasi beberapa hewan terancam. Fadly mencontohkan, pada masa kolonial terjadi perburuan yang masif terhadap banteng, yang membuat populasinya menurun.

Bukan hanya masyarakat pribumi dari lapisan sosial bawah, orang-orang Eropa juga gemar berburu, sehingga membinasakan beberapa varietas hewan.

“Bahkan, tercatat dalam sejarah, bangsa Eropa yang konsumtif terhadap unggas, menyebabkan burung dodo dari Mauritius punah,” ujarnya.

Daging kelelawar yang banyak dijual di pasar di Tiongkok

Merusak Ekosistem dan Timbulkan Penyakit
Ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid menyayangkan perdagangan bahan makanan dari satwa liar yang dilindungi, seperti penyu dan monyet. Ia menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelanggar bisa dijerat pidana lima tahun penjara dan denda Rp100 juta.

“Itu jelas aspek pidananya. Itu melanggar hukum. Produk hukum sudah ada, tetapi penegakan masih lemah,” ujar Rosek saat dihubungi, Kamis (23/1).

Selain itu, dari sisi etika, kata dia, mengonsumsi binatang liar sudah tak relevan lagi. Sebab, menurutnya, di era modern masyarakat sudah dapat mengembangkan banyak alternatif, selain berburu hewan liar. Misalnya, beternak hewan.

Menurut Rosek, kebiasaan mengonsumsi hewan liar berdampak buruk terhadap populasinya. Bila satwa liar terus ditangkap dan dikonsumsi, keseimbangan ekosistem akan terganggu.

Ia menerangkan, setiap jenis satwa liar mengemban fungsi sebagai rantai keseimbangan alam. Misalnya, ular akan memakan tikus. Ketika populasi ular berkurang, maka hama tikus akan meningkat dan menyerang persawahan warga.

“Siapa yang rugi? Ya, manusia. Jaring-jaring makanan menjadi terputus ketika diambil oleh manusia. Salah satunya untuk kuliner,” ucapnya.

Di sisi lain, ternyata makanan liar yang dipercaya mengandung aneka khasiat itu menyebabkan ancaman penyakit. Hal ini diungkapkan Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dhian Proboyekti Dipo.

Menurut Dhian, daging biawak mengandung beberapa bakteri di dalam tubuhnya, seperti trichinosis, gnathostomiasis, sparganosis, dan mycobacterium. Dari sisi nilai gizi, komposisi daging biawak per 100 gram mengandung 131 kilokalori, 26,8 gram protein, dan 1,6 gram lemak.

“Manusia yang mengonsumsi daging maupun bagian tubuh reptil ini, bisa menyebabkan infeksi dan terjadinya kerusakan jaringan tubuh,” ujar Dhian.

Sedangkan mengonsumsi daging ular, lanjut Dhian, akan berisiko terinfeksi bakteri, seperti trichinosis, pentastomiasis, gnathostomiasis, sparganosis, dan salmonella. Bahkan, kata dia, bakteri salmonella bisa menyebabkan keracunan dan masalah pada pencernaan.

Dhian mengatakan, daging monyet juga tak layak dikonsumsi karena banyak efek samping bagi kesehatan manusia.

“Mengonsumsi daging monyet bisa berisiko terkena varian baru human immunodeficiency virus (HIV), yang disebut simian foamy virus,” ucapnya.

Dhian pun mengingatkan, daging hewan liar bisa menyebarkan penyakit, seperti ebola.

“Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) di Amerika Serikat mengonfirmasi, penularan ebola pada manusia erat kaitannya dengan perburuan, pemotongan, dan pemrosesan daging dari hewan-hewan yang terinfeksi,” kata Dhian. ***

(Pam/ Sumber: Alinea.id dan sumber lainnya)

pam / pam

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya