backgroud
logo

Internasional

 

Diduga Darah Pasien Sembuh Virus Corona Dapat Obati Infeksi COVID-19

Diduga Darah Pasien Sembuh Virus Corona Dapat Obati Infeksi COVID-19

 
Diduga Darah Pasien Sembuh Virus Corona Dapat Obati Infeksi COVID-19
Petugas medis menunjukkan sampel yang diambil dari pasien yang diduga terkena virus corona di tempat. (STRAFP)
WJtoday
Minggu, 16 Februari 2020 | 22:23 WIB
WJtoday - Tiongkok terus melakukan berbagai cara untuk melawan infeksi virus corona atau COVID-19. Termasuk mencari obat yang saat ini tengah dikembangkan oleh berbagai ilmuwan dunia.

Baru-baru ini, sebuah perusahaan farmasi yang merupakan Badan usaha Milik Negara Tiongkok tengah mengumpulkan plasma darah orang-orang yang sembuh dari COVID-19. Mereka menyatakan, kemungkinan cara itu bisa membantu pasien yang kritis.

Dikutip dari Straits Times pada Minggu (16/2/2020), China National Biotec Group mengklaim bahwa plasma darah mantan pasien memiliki antibodi yang sangat kuat. Sehingga, mereka menggunakannya untuk merawat lebih dari 10 pasien yang sakit sejak 8 Februari.

Pejabat kesehatan senior di China dilaporkan telah meminta sejumlah pasien virus corona yang sembuh dari penyakit COVID-19 untuk mendonorkan plasma darahnya. Menurut laporan The New York Times, Kamis (13/2/2020), permintaan ini dilakukan karena plasma darah dari pasien yang berhasil pulih diduga mengandung protein berharga yang dapat digunakan untuk mengobati novel coronavirus. 

"Saat ini, mengingat kurangya vaksin dan obat-obatan terapeutik tertentu, penggunaan plasma ini, dengan imunoglobin spesifik, adalah cara yang paling efektif dalam mengobati infeksi virus corona baru dan mengurangi tingkat kematian pasien yang sakit kritis," kata Lu Hongzhou dari Shanghai Public Health Clinical Centre seperti dikutip dari South China Morning Post.

Seruan mendonorkan plasma darah itu muncul usai adanya pengumuman dari perusahaan farmasi milik negara, China National Biotec Group, yang mengklaim bahwa antibodi dari pasien virus corona yang sembuh berhasil membantu merawat 10 pasien kritis dan mengurangi peradangan mereka dalam 12 hingga 24 jam, sebagaimana dilaporkan Time.

Pasien yang baru sembuh dari COVID-19 dinilai masih memiliki antibodi terhadap virus Corona. (lst)

Uji coba ini mendapatkan tanggapan beragam dari para peneliti di belahan dunia lain. Kepada Live Science, Carol Shoshkess Reiss, profesor biologi dan ilmu saraf di New York University, Amerika Serikat mengatakan bahwa dia senang ada uji coba pemberian plasma darah para penyintas COVID-19. Namun, para pakar Tiongkok juga perlu kontrol untuk kemungkinan efek samping dari perawatan.

Selain itu, tidak semua pakar percaya bahwa strategi ini merupakan pengobatan yang masuk akal.

Menurut ahli kesehatan, pendekatan semacam ini memang bisa dilakukan untuk merawat pasien virus corona yang mengalami sakit parah. Kendati begitu, para dokter harus tetap waspada dengan efek samping yang bisa ditimbulkan. 

Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus dan bakteri jahat, atau zat kimia berbahaya lainnya. Ketika ada virus atau bakteri jahat masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan meningkatkan produktivitas antibodinya untuk melawan dan membunuh virus-virus tersebut. Proses ini tidak instan, melainkan membutuhkan beberapa waktu untuk tubuh beradaptasi.
 
Seseorang yang baru pulih dari penyakit COVID-19 akan memiliki antibodi virus corona yang beredar di dalam darahnya. Menyuntikkan darah dengan antibodi virus corona pada pasien COVID-19 secara teoritis dapat membantu melawan infeksi virus. Dengan kata lain, antibodi telah ditransferkan dari pasien pulih ke pasien yang sakit. 

Menurut Benjamin Cowling, seorang profesor epidemiologi di Hong Kong University, cara ini juga pernah dilakukan ketika wabah pandemi flu menyerang beberapa negara di dunia, salah satunya Amerika Serikat.
 
“Saya senang mengetahui bahwa dalam keadaan penuh kasih, plasma dari para penyintas (pasien yang sembuh dari virus corona) sedang diuji,” ujar Carol Shoshkes Reiss, seorang profesor biologi dan ilmu saraf di  New York University kepada Live Science. “Namun, mereka perlu mengetahui kemungkinan efek samping dari perawatan.”

Petugas medis berpakaian hazma merawat pasien di salah satu rumah sakit di Wuhan, China. (China Daily via REUTERS)

Dalam peraturan Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan (Food and Drug Administration/FDA) AS, obat eksperimental atau perawatan di luar uji klinis dapat diberikan kepada pasien, jika dalam keadaan darurat. 

Kendati FDA tidak punya wewenang mengatur uji coba obat di China, namun aturan yang sama kemungkinan juga berlaku di China. Dalam kasus ini adalah pemberian plasma darah dari pasien pulih coronavirus kepada penderita penyakit COVID-19. 

“Saya pikir perawatan teoritis ini adalah ide yang bagus. Namun, harus dipastikan kebenarannya bahwa ini memang aman dan efektif digunakan sebelum membuat orang terinfeksi. Saya pikir kita harus menunggu penelitian secara ilmiah terlebih dahulu sebelum menerapkan pengobatan ini. Terutama pada virus yang memiliki tingkat kematian yang rendah,” ujar Dr. Eric Cioe-Pena, direktur kesehatan global di Northwell Health di New York, AS.

Suntik plasma darah hanyalah satu dari sekian banyak pengobatan lain untuk melawan penyakit COVID-19 yang telah memakan korban di seluruh China. Beberapa pengobatan yang dilakukan adalah pemberian obat antivirus kepada pasien COVID-19, termasuk obat antivirus HIV dan SARS.***

WJT / agn

Tidak Ada Komentar.


 

Berita Lainnya